Saturday, 4 April 2015

Arti Surah Al Imran

Ayat 151-160

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ
151. Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tak menurunkan keterangan tentang itu; dan tempat kembali mereka adalah neraka. Itulah seburuk-buruk tempat orang-orang yang lalim.
Rasa cemas yang masuk ke dalam hati tergantung kepada tingkat keraguan dan kekafiran. Apabila seseorang benar-benar menolak kebenaran Tuhan dan tidak percaya pada tauhid dan hari kiamat, ia akan lari dari peperangan melawan kebenaran karena takut mati. Hati orang beriman yang belum teguh juga akan mengalami ketakutan. Pada situasi ini, sebenarnya ia memperoleh kesempatan untuk bergerak menuju iman yang lebih dalam. Rasa takut orang beriman menantangnya untuk bangkit, sedangkan rasa takut orang-orang kafir hanya semakin memenjarakannya.
Implikasi lahiri ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang turut serta dalam perang Uhud. Ayat ini mengingatkan mereka agar tidak khawatir terhadap kekalahan mereka. Ayat ini juga menjelaskan bahwa rasa takut akan selalu hadir dalam hati orang-orang kafir, karena mereka tidak percaya kepada Allah dan kehidupan akhirat. Meskipun orang kafir tampak tidak takut, tak dipungkiri lagi, ia takut akan kematian.
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
152. Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka unttik menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Allah mempu-nyai karunia kepada orang-orang yang beriman.
Perang Uhud adalah perang yang tak pernah berakhir; kita turut serta di dalamnya di setiap waktu dalam kehidupan kita. Pada awal peperangan, kaum muslim masih bersatu, taat pada pemimpin mereka, dan tidak ada rasa takut. Kebimbangan, perselisihan, dan ketamakan memporak-porandakan persatuan dan kekuatan mereka. Lima puluh orang yang telah ditempatkan secara strategis oleh nabi mulai mendengar suara ego rendah dan godaannya. Setan mengganggu hati manusia; dalam Alquran banyak ayat yang menyamakan setan dengan manusia ketika kecenderungan rendah menguasai perbuatan manusia.
Selama masa sulit dan berat, manusia akan mendapatkan unsur-unsur yang mendalam pada dirinya, dan juga prioritas yang harus dilakukannya. Biasanya manusia yang tidak memiliki apa-apa lebih mudah untuk menjauhkan dirinya dari keinginan duniawi dan kekayaan. Meskipun demikian, orang ini, bila diajak ke pasar dan diberikan cek untuk dibelanjakan, akan timbul juga rasa tamak dan ra-kusnya. Di sini Allah menyatakan kepada orang-orang beriman bahwa di antara beberapa ratus orang yang mengiringi Nabi, dan juga termasuk para sahabat Nabi, terdapat sekelompok orang yang lebih cinta kepada harta benda dan rampasan perang daripada pengorbanan diri di jalan Allah.
Beberapa penafsir terkenal mendefinisikan "sahabat" sebagai orang yang pernah bertemu Nabi. Akar kata "sahabat" juga memiliki makna "menemani." Menurut sejarah, kata ini lebih dekat kepada pengertian orang-orang yang berada di masa Nabi, tetapi ini juga dapat berarti mereka yang bersama Nabi lahir-batin. Kami memperoleh informasi bahwa pada perang Uhud hanya tinggal dua orang yang tetap bersama Nabi hingga akhir pertempuran. Kita harus merenungkan peristiwa ini beserta implikasinya, dan tidak menganggap bahwa semua "sahabat" itu sejati dan dekat dengan jalan kenabian.
Ayat ini, dan beberapa ayat berikutnya, menceritakan secara rinci tentang peristiwa perang Uhud, perang yang terus berkobar sebagai realitas nyata di setiap waktu. Kita dapat dengan mudah menjadi penakut dan kehilangan keberanian karena perselisihan dan keraguan yang timbul dari kebimbangan, yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada kehancuran. Dalam hidup kita, perang dapat menjadi sebuah hal yang tidak bermakna hingga kita menyadari luasnya konsekuensi dari perang tersebut. Kita akan kalah dalam peperangan ketika kita lebih suka meremehkan—ketimbang menolong—seseorang dan menghasutnya kepada orang lain. Allah berfirman, "Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat." Ketika cinta kita terhadap dunia menang atas cinta terhadap akhirat, berarti kita telah kalah.
Bagaimanapun juga orang-orang yang ikut dalam perang Uhud selamat dari kehancuran total: dalam keadaan itu, kaum muslim mengalami kekalahan kecil, dan banyak yang berhasil menyelamatkan diri. Karena jumlah musuh mencapai 3000, bagaimanapun juga, ini merupakan kesuksesan besar, karena di pihak muslim, hanya sekitar 70 orang yang terbunuh.
"Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian."Ujian pada dasarnya merupakan sebuah berkah yang membuat kita merenungkan makna pengalaman serta tingkat kelemahan dan kekuatan kita. Hal ini merupakan manifestasi cinta Allah terhadap orang beriman sehingga orang tersebut dapat menyaksikan dirinya sendiri. Apabila ia tak menyaksikan dirinya sendiri di dunia ini, ia akan dihadapkan dengan hijab batin, tipu muslihat, dan kemunafikannya.
"Dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian." Mereka yang sungguh-sungguh memohon kebenaran akan diberikan satu kesempatan lagi untuk menyusuri jalan pengembangan spiritual. Ayat ini ditujukan kepada orang-orang beriman, yang akan menyadari tingkat di mana kecenderungan rendahnya dapat menguasainya.
إِذْ تُصْعِدُونَ وَلاَ تَلْوُونَ عَلَى أحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمَّاً بِغَمٍّ لِّكَيْلاَ تَحْزَنُواْ عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ مَا أَصَابَكُمْ وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
153. Ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seseorang pun, sedang Rasul memanggil kalian dari belakang. Allah menimpakan atas kalian kesedihan atas kesedihan, supaya kalian jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dan terhadap apa yang menimpa kalian. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Alquran melanjutkan ayatnya dengan penggambaran secara terperinci mengenai peristiwa perang Uhud. Kita mengetahui bahwa di antara pengikut Nabi, atau masyarakat yang dipimpin oleh orang-orang yang berilmu, ketika timbul kesulitan yang tampaknya tidak dapat diatasi, maka timbullah rasa lemah dan akhirnya lari. Keinginan untuk melarikan diri ini timbul dari kurangnya pengetahuan, kearifan, dan ketabahan hati.
Kita semua takut melihat dalam diri kita sendiri, karena di sana kita akan mendengar suara kebenaran kenabian yang akan menyulitkan kita. Kita tak ingin mendengar sesuatu yang akan menghalangi kita dalam upaya melarikan diri dari kesulitan lahiri yang muncul. "Sedang Rasul memanggil kalian dari belakang. Allah menimpakan atas kalian kesedihan atas kesedihan."Pada ayat ini Allah berfirman bahwa akibat dari tidak mendengar, melarikan diri, dan berusaha menghindari masalah—tindakan-tindakan yang menunjukkan kurangnya iman dan kewaspadaan— balasannya adalah "kesedihan atas kesedihan." Kita semua pernah mengalami saat ketika kita ingin memutuskan tali silaturrahim dengan seseorang yang kita janjikan bantuan, atau ketika kita ingin meninggalkan kebenaran yang telah kita pegang teguh.
Penderitaan (ghamm) pertama adalah kesedihan yang menimpa mereka karena mereka merasa lemah dan kalah. Penderitaan kedua adalah karena mereka menyalahkan orang lain. Kaum muslim pada perang Uhud bersedih atas apa yang mereka lakukan kepada Nabi, karena ketika kembali, mereka mendapati Nabi dalam keadaan terluka, bersama Ali, yang juga terluka, di sampingnya. Balasan bagi iman yang lemah dan ketiadaan disiplin adalah dua penderitaan. Ujian ini, yang ditimpakan kepada mereka, bukanlah sebagai hukuman, tetapi untuk menunjukkan kepada mereka berlakunya hukum aksi dan reaksi. Setiap orang harus belajar mengenali ketentuan hukum Allah yang berlaku dalam hidupnya dengan mengamati penderitaan dan kesedihan yang menimpanya.
"Supaya kalian jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dan terhadap apa yang menimpa kalian": inilah inti permasalahannya; kaum muslim diingatkan untuk tidak bersedih hati atas kekalahannya. Orang mukmin tidaklah bersedih atas apa yang telah terjadi. Ia hanya mengambil hikmah dari peristiwa di sekelilingnya, karena ia selalu merenungkan peristiwa itu dan karenanya bisa mengambil hikmahnya. "Tak ada tempat berhenti bagi orang-orang Madinah," sebagaimana dikatakan sebuah hadis. Mereka terus berjalan. Inilah sunah Nabi.
Kita sering berbicara tentang sunah Nabi, mengenai risalah dan rasul, tetapi apakah kita benar-benar memahami maknanya, dan apakah kita tahu bagaimana mengambil manfaat darinya? Sebuah ayat menyatakan: "Agar kalian tidak bersedih." Kesedihan pada dasarnya berasal dari situasi yang tidak seimbang. Kejelasan hanya datang ketika pertanyaan mengapa dan bagaimana sesuatu itu dijawab secara tepat. Karena itu, kesedihan merupakan perwujudan dari ketidaktahuan. Allah ingin orang-orang beriman menyadari hikmah dari apa yang terjadi pada mereka, agar mereka tidak bersedih tanpa alasan atas hilangnya sedikit harta benda. Allah juga ingin agar mereka memahami bahwa apa yang menimpa mereka sebenarnya merupakan bentuk manifestasi dari takdir, rahmat, dan keadilan Allah.
Para sahabat meraih kemenangan gemilang di dunia dan akhirat ketika mereka menaati Nabi pada perang Badr. Namun pada perang Uhud, mereka melanggar perintah, maka hasilnya adalah kekalahan duniawi dan penyesalan. Alquran meminta mereka agar tidak bersedih, tetapi justru mengajak mereka mengambil hikmah dan manfaatnya, sehingga kesalahan yang sama tak akan terulang kembali. Seseorang tak akan mengulangi kesalahan yang sama apabila ia secara sungguh-sungguh mengetahui penyebabnya, dan telah bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Misalnya, seorang anak yang terkena sedikit stmm listrik karena menyentuh kawat, ia mungkin tak sepenuhnya sadar atas bahaya tindakannya. Tetapi apabila ia terkena strum tinggi, maka ia akan ingat terus untuk tak pernah lagi menyentuhnya, karena ia telah sadar sepenuhnya atas akibat dari tindakannya itu.
"Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." Allah mengetahui semua perbuatan kita dan Dia juga mengetahui kebutuhan kita untuk memperoleh pengetahuan. Sesungguhnya Allah adalah sumber seluruh makhluk. Jalan menuju pengetahuan yang sesungguhnya diperoleh dengan berkomunikasi dengan hati nurani. Kita tidak boleh hanya bersedih atas perbuatan salah, tetapi kita juga harus mengambil tanggung jawab pribadi dan bersedih atas kelalaian kita. Apabila kesedihan kita tulus, kita tidak akan melupakan Allah, karena kesedihan yang tulus akan membawa kepada zikir dan keinginan untuk sadar. Inilah pelajaran dari perang Uhud. Setiap saat dan setiap keadaan adalah Uhud dan Karbala (padang pasir tempat Imam Husain terbunuh sebagai syahid). Keduanya bukan sekadar peristiwa masa lampau yang perlu diperingati secara seremonial. Peringatan tidak berguna apabila pelajaran darinya tak diterapkan dalam kehidupan kita.
ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاسًا يَغْشَى طَآئِفَةً مِّنكُمْ وَطَآئِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لاَ يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ مَّاقُتِلْنَا هَاهُنَا قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
154. Kemudian setelah kalian berduka cita, Allah menurunkan kepada kalian keamanan [berupa] kantuk yang meliputi segolongan dari kalian. Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, karena mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah kita memiliki hak campur tangan dalam urusan ini." Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam diri mereka apa yang tidak mereka terangkan kepada kalian. Mereka berkata: "Sekiranya kita memiliki hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tak akan dibunuh di sini." Katakanlah: "Sekiranya kalian berada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh akan keluar juga ke tempat mereka terbunuh." Allah menguji apa yang ada dalam hati kalian untuk membersihkan apa yang ada di dalamnya. Allah Maha Mengetahui isi hati.
Selama perang Uhud, benih kebimbangan telah menyebar di hati orang-orang yang imannya lemah melalui mulut setan yang mengajak mereka mengambil harta rampasan perang, dan kemudian menyebarluaskan desas-desus bahwa Nabi telah terbunuh. Kaum muslim pada saat itu tak mendengarkan suara hati nurani mereka mengenai pengorbanan diri, sebaliknya mereka justru mendengarkan bisikan ego yang rendah. Banyak kaum muslim yang berpikir bahwa karena Nabi telah meninggal maka perang pun telah usai, dan karenanya tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan dan berperang. Kemudian mereka memenuhi tuntutan musuh.
"Kemudian setelah kalian berduka cita, Allah menurunkan kepada kalian keamanan [berupa] kantuk yang meliputi segolongan dari kalian" Kelompok yang dimaksud di sini mungkin adalah kelompok sahabat yang bertempur dengan kekuatan penuh. Orang-orang beriman ini, dengan komitmen penuh, berada di tengah peperangan ketika tiba-tiba situasi menjadi berbalik; selama masa tersebut mereka tertidur. Dikabarkan bahwa kepala-kepala mereka berada di dada-dada mereka seolah rasa kantuk menyerang mereka (hal ini memungkinkan mereka untuk bangkit kembali). Kelompok lain "yang diliputi rasa gelisah" merasa khawatir terhadap diri mereka sendiri; mereka adalah kaum muslim yang imannya tipis.
"Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah." Hal ini terjadi karena mereka tidak memahami sepenuhnya jalan Allah. Nabi bersabda: "Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah berpikir tentang Allah." Bagaimana mungkin berpikir tentang Allah? Pada saat kita berpikir tentang Allah, kita akan terjebak pada ilusi. Oleh karena itulah, lebih baik kita memikirkan tentang ciptaan Allah dan hukum alam-Nya yang rumit, seimbang, dan sempurna, yang mengatur alam ini. Kita sebaiknya memikirkan karakter yang sepadan dan berlawanan dari aksi dan reaksi dan hubungan sebab-akibat. Kita sebaiknya memikirkan tentang keindahan, keseimbangan, dan keagungan alam ini. Tidak ada spekulasi tentang Allah, karena alam dan seluruh isinya menjadi tanda kekuasaan Allah, Sang Pencipta.
Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, karena mereka tidak mengetahui hukum-hukum Allah. Mereka berpikir bahwa karena mereka bersama Nabi, maka kekuatan gaib akan mengubah kondisi mereka. Mereka tidak menyadari bahwa mereka harus berusaha mencapai kesuksesan. Alam ini tercipta untuk menunjukkan kepada kita makna tauhid dan seluk-beluk pengaruhnya di segala bidang. Allah tampaknya ingin mengisyaratkan bahwa kita tidak dapat hanya bersandar pada pikiran yang penuh harapan dan takhayul. Kita perlu belajar bagaimana berjuang untuk diri kita sendiri, dan berinteraksi dengan Dunia untuk memperoleh hasil yang dunginkan. Pada perang Uhud, Nabi tidaklah gugur, dan melalui keimanan dan kesabarannya, ia dapat mengubah keadaan yang terjadi. Ali, sahabat Nabi, mempertahankan beliau dengan melawan dua puluh lawan, sehingga mampu menyelamatkan jiwa Nabi. Makna keberadaan Tuhan ditunjukkan kepada kita dalam wujud medan pertempuran yang di dalamnya kita dapat berbuat amal. Dengan menggunakan akal, kita dapat memahami bahwa satu orang yang tidak takut mati setara dengan beberapa orang yang takut dalam pertempuran. Keraguan akan merusak kelemahan, dan hati yang kuat akan selalu mendapatkan kemenangan.
Menurut fitrahnya, manusia ingin berhasil; karena itulah, kegagalan mengisyaratkan kebodohan dalam bentuk salah penerapan, salah penetapan waktu, takut, rakus, atau sifat bodoh lainnya. Kita tak boleh ingkar terhadap tanggung jawab, ataupun berkata bahwa kita tak tahu bagaimana melakukannya. Sebaliknya, masalah ini seluruhnya merupakan tanggung jawab kita, dan kegagalan seluruhnya merupakan kesalahan kita. Kesulitan berasal dari kita sendiri, sedangkan rahmat berasal dari Allah. Rahmat berasal dari hukum Allah yang bersifat abadi. Kita harus menyadari hukum-hukum ini untuk dapat menerapkannya, dan untuk hidup dinamis dalam perlindungannya. Melalui cara ini kita akan mengetahui makna penyerahan diri yang sesungguhnya dan makna alam akhirat yang tak berdimensi waktu dan tempat.
"Mereka berkata: 'Sekiranya kita memiliki hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tak akan dibunuh di sini.'" Inilah suara yang menyerukan ketakutan akan kematian. Sebelum perang, orang-orang munafik telah menciutkan nyali kaum muslim. Sekarang banyak orang muslim yang menyatakan bahwa jihad di jalan Allah adalah sesuatu yang telah usang dan sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang. Seseorang bisa saja dengan mudahnya memberikan pembenaran atas kegagalannya menelusuri jalan perjuangan melawan ego dirinya. Apabila imannya lemah, ia akan mendengar suara yang semakin memperlemahnya.
Orang-orang munafik menyangkal tanggung jawab terhadap pembelotan mereka dengan menyatakan bahwa mereka juga melihat orang-orang lain yang teriuka dan berlari kemudian kabur melarikan diri. Mereka juga menambahkan bahwa mereka tak bertanggung jawab atas kekalahan, dengan menyatakan bahwa semua ini terjadi karena Allah dan karena Allah tak menginginkan mereka menang. Tetapi Allah menyatakan dalam Alquran bahwa Dia tidak mengubah suatu kondisi masyarakat sehingga mereka sendiri yang mengubahnya. Manusia biasanya menyalahkan Allah atas apa yang menimpa mereka, karena dia tidak tahu watak Yang Mahawujud.
Perang Uhud memberikan kesempatan kepada kaum muslim untuk merenungkan niat dan amal mereka. Orang yang niatnya ditampakkan amatlah beruntung, karena ia bisa melihat akal bulus ego dirinya yang tersembunyi dan dengan demikian diberi kesempatan untuk berubah dan berkembang. Sebuah contoh, apabila kita sadar bahwa pengkhianatan adalah unsur utama dalam watak kita, kita akan memiliki kesadaran yang lebih terhadap kecenderungan ini dan akan lebih mudah lagi mengatasinya. Hal yang sama juga dapat terjadi pada tingkat fisik: apabila kita sadar bahwa tindakan kita itu aneh karena ketidakseimbangan tubuh, kita dapat membuat alat bantu. Dengan menyadari saat-saat lemah itu, kita dapat menetralkan akibat negatifnya.
"Katakanlah: 'Sekiranya kalian berada di rumah kalian,'" merupakan jawaban terhadap orang-orang Yahudi dan kaum lainnya di Madinah yang mengatakan kepada orang-orang beriman bahwa seandainya saja mereka tetap tinggal di dalam rumah, maka mereka tidak akan terbunuh. Peperangan hidup ada di hadapan kita "karena Allah akan menguji apa yang ada di dalam hati kalian." Kata ujian atau cobaan (bala) berarti juga "membuat letih." Watak cinta kasih Allah adalah menampakkan apa yang ada dalam hati kita dalam rangka melemahkan atau menyembuhkan penyakit yang berada di dalamnya. Dengan cara ini, hijab yang menghalangi kita dari merasakan tauhid yang ada dalam diri kita akan terbuka, dan kita dapat beramal sejalan dengan isi hati kita yang paling dalam. Allah "menyingkap" apa yang berada dalam dada sehingga hati itu berubah menjadi suci dan bebas. Selanjutnya, kita diizinkan untuk kembali kepada Sang Sumber yang berada dalam diri kita.
"Allah Maha Mengetahui isi bati." Pengetahuan diri berasal dari Allah; ia merupakan hubungan intim yang bersifat khusus. Kewajiban setiap kita adalah turut serta dalam perang Uhud, kalah tetapi menang, sebagaimana dilakukan kaum muslim pada masa Nabi. Pada waktu itu, menjadi jelaslah siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik.
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْاْ مِنكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُواْ وَلَقَدْ عَفَا اللّهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
155. Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanya karena mereka digelincirkan oleh setan, akibat sebagian kesalahan yang mereka perbuat. Tapi Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
Mereka yang imannya lemah, yaitu mayoritas kaum muslim, berlari ketika "dua pasukan bertemu." Sedikit pengetahuan material dan spiritual yang mereka peroleh tidaklah memadai. Pengetahuan yang sedikit berbahaya, karena orang yang bersangkutan akan mudah tergelincir dari kendali. Analogi dari proses kesadaran akan pengetahuan ini adalah seperti kemampuan anak kecil untuk berpikir: anak kecil tidak secara langsung mengerti seluruh situasi. Demikian pula, kebanyakan kaum muslim hanya menjalankan sebagian kecil ajaran agamanya, yaitu Islam, bagian yang paling mudah bagi mereka untuk melaksanakannya. Karena kita mencintai dunia, kita mendukung kecenderungan materialistik kita dengan menyitir hadis yang menyatakan bahwa Allah lebih mencintai orang muslim yang kuat dan kaya ketimbang orang muslim yang miskin. Secara keseluruhan, kita lupa mengingat bahwa Alquran selalu menekauKan infak dan sedekah, dan mencela ketamakan dan pengumpulan harta. Alquran mensinyalir bahwa Allah akan memberi kita rejeki (rizq) dari hal-hal yang tidak terduga.
"Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun." Pesan utama dari ayat ini adalah bahwa Allah akan mengampuni siapa saja yang tulus dalam permohonannya, dan Dia akan menjadikan mereka bersih dari segala dosa, seperti bayi yang baru dilahirkan, untuk kembali beramal dengan pengetahuan yang lebih luas.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ كَفَرُواْ وَقَالُواْلإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُواْ فِي الأَرْضِ أَوْ كَانُواْ غُزًّى لَّوْ كَانُواْ عِندَنَا مَا مَاتُواْ وَمَا قُتِلُواْ لِيَجْعَلَ اللّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللّه ُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
156. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian seperti orang-orang kafir yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka Bumi atau berperang: "Seandainya mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak akan mati dan tidak akan terbunuh." Allah akan menimbulkan rasa penyesalan di dalam hati mereka karena sikap yang demikian itu. Allah menghidupkan dan mematikan, dan Allah melihat apa yang kalian kerjakan.
Orang-orang beriman tidaklah sama dengan orang-orang kafir. Ayat ini meminta kaum mukmin agar tidak mengikuti kaum kafir dalam keingkaran, keraguan, dan kebimbangan mereka. Mereka yang ingin kuat imannya tidak boleh sampai terjebak dalam perangkap tersebut. Orang-orang beriman tidak boleh menyesali apa yang telah terjadi.
Ungkapan "mereka tidak akan mati dan tidak akan terbunuh" jelas menunjukkan penentangan. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan bahwa seandainya saja suatu kaum tidak pergi ke medan perang tentu mereka akan tetap hidup? Keadaan dapat saja berubah kapan saja. Maksudnya, manusia tak bisa sepenuhnya meramal apa yang akan terjadi berdasarkan perhitungan di atas kertas.
وَلَئِن قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
157. Jika kalian gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari pada harta rampasan yang mereka kumpulkan.
وَلَئِن مُّتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لإِلَى الله تُحْشَرُونَ
158. Dan sungguh jika kalian meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kalian dikumpulkan.
Pada ayat ke-157, terbunuh (qutila) disebutkan sebelum kata mati. Ini menunjukkan bahwa keinginan untuk mati syahid adalah lebih baik daripada menerima kematian secara pasrah. Apabila seseorang terbunuh di jalan Allah, maka menyerahkan seluruh jiwanya kepada Allah lebih baik daripada seluruh apa yang telah ia peroleh di muka Bumi ini. Baginya, mati syahid adalah lebih baik daripada kekayaan sebuah kerajaan, karena mati di jalan Allah adalah kunci menuju kebebasan abadi. Ia akan dihormati sebagai tamu raja di raja pada kerajaan yang tiada batas. Manusia yang mengejar kekayaan sebenarnya hanyalah mengumpulkan sedikit perhiasan kecil.
Dengan menyebutkan terbunuh sebelum mati, Allah membuat pernyataan mengenai pengorbanan manusia demi kebenaran. Dia berfirman bahwa siapa saja yang ingin menyerahkan miliknya yang paling berharga, yaitu hidupnya, sungguh ia bersama Allah.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
159. Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri darimu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
Kelemah-lembutan adalah sifat Allah yang sangat ingin kita tanamkan. la merupakan sifat Nabi, sang pemimpin sempurna, yang ingin kita teladani. Jika Nabi tidak memiliki sifat mulia ini, seandainya hatinya tidak lemah lembut, manusia tidak akan berbondong-bondong masuk Islam. Alquran mengisyaratkan bahwa keinginan memiliki sifat-sifat mulia mengakar kuat dalam setiap hati manusia. Ketika orang beriman melihat sifat-sifat ini termanifestasi secara jelas, maka ia akan mencarinya, sesuai dengan tingkat kekuatan atau kelemahan imannya.
Kemudian Allah mengamanatkan Nabinya dengan berfirman: "Maafkanlah mereka." Kita bisa memaafkan kesalahan seseorang terhadap diri kita, tetapi kita tidak bisa memaafkan kesalahan seseorang terhadap orang lain, dan kita tak bisa menebus perbuatan dosa orang lain yang berkaitan dengan hak Allah. Kita bisa saja memaafkan seseorang yang merusak hasil panen kita, tetapi kita tak bisa memaafkan kesalahan orang tersebut terhadap alam atas kerusakan lingkungan yang dilakukannya. Perbuatan seseorang pasti akan menimbulkan reaksi alam. Karena kemuliaan fitrahlah, kita bisa memaafkan orang lain sebagaimana Nabi melakukannya. "Dan mohonkanlah ampunan untuk mereka": Nabi diminta berdoa untuk mengakhiri kelemahan mereka, agar mereka dapat diampuni.
"Dan bermusyawarahlah dengan mereka." Inilah unsur mendasar dalam suatu masyarakat: saling berbagi pendapat dan bertukar pikiran. Seorang pemimpin hendaknya bermusyawarah dengan rakyatnya sebelum mengambil suatu tindakan, walaupun terkadang ia mendapatkan mereka lemah dan tidak mampu mengikutinya. Bermusyawarah dengan seseorang tidak berarti harus mengikuti sarannya, ia hanya mengisyaratkan interaksi, penyelidikan dan pilihan menuju yang terbaik. Kepemimpinan nabi bukanlah demokrasi dalam arti sempit, bukan pula demokrasi sekuler.
Alquran melanjutkan, "Apabila kamu telah membulatkan tekad," yaitu ketika seseorang telah mengumpulkan seluruh informasi melalui diskusi dan mendengar pendapat orang lain, barulah ia dapat mengambil keputusan secara baik. Allah mencintai orang-orang yang tegas dalam mengambil keputusan. Dia mencintai orang-orang yang menggunakan akalnya, yang menginginkan hal terbaik dan berusaha meraihnya tanpa rasa bimbang. "Allah mencintai orang-orang yang yakin." Ketika keputusan telah diambil, maka harus segera dilaksanakan.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji lagi?" (Q.S. 29:2) Kita akan diuji dengan kelemahan dan kebimbangan. Orang yang tabah dan sabar akan tetap bertahan seperti mercusuar di pantai, tidak ada yang dapat menggoyahkannya. Walaupun ombak menerpanya, ia tetap berdiri pada pondasinya. Ia yakin dan percaya, karena ia mengetahui bahwa pada akhirnya kemenangan akan datang dari Allah, dan bahwa apa yang ia perjuangkan akan menang walaupun tidak muncul secara langsung. Pembunuhan terhadap nabi tidak akan menghentikan risalah. Kita tidak akan menang dengan hanya mengalahkan seseorang yang menjadi lawan kita, khususnya bila orang tersebut mewakili kebenaran, karena kebenaran akan tetap muncul, boleh jadi pada generasi berikutnya. Kebenaran berarti bahwa manusia tidak akan pernah tenang kecuali setelah ia mengetahui tujuan dari penciptaannya, dan dia tidak akan tahu kecuali setelah ia merasa yakin dan aman dengan keimanan dan keislamannya. Manusia tak akan pernah puas dengan jumlah kekayaan sebanyak apa pun, kecuali setelah ia yakin dalam hatinya akan kekuasaan Allah atas seluruh makhluk, baik yang terlihat maupun yang gaib.
إِن يَنصُرْكُمُ اللّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِ وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكِّلِ الْمُؤْمِنُونَ
160. Jika Allah menolong kalian, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kalian, tetapi jika Allah membiarkan kalian, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian selain Allah? Karena itu, hendaknya kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.
Allah akan memberi seseorang kemenangan ketika ia telah mengikuti aturan yang berlaku, baik yang tampak maupun tersembunyi, baik dalam bentuk kekuatan maupun kelemahan. Ketika yang tampak dan tersembunyi itu menyatu, kita akan meraih kesuksesan dan melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan cahaya kebenaran. Kesuksesan adalah sesuatu yang mungkin dapat terjadi pada semua tingkatan. Apabila jalan yang kita ambil tertutup, kita harus yakin bahwa jalan lain yang lebih baik akan tampak di depan kita pada waktunya nanti. Kita percaya pada niat yang baik dan usaha yang benar, dan dalam berbuat hendaknya kita tidak terlalu terfokus pada hasil. Kecemasan yang berlebihan dan kekhawatiran tidak mencapai target akan membuang energi, dan justru memperburuk upaya pencapaian target.

Kewajiban Menegakkan Kebenaran

Bismillahhirohmanirrohhim
Hy gusy bertemu dengan saya disini saya akan memposting tentang kewajiban menegakkan kebenaran

Kebenaran begitu banyak dicari-cari orang. Anehnya, para penegak kebenaran justru sering dikejar-kejar orang. Bagaimana ini?
SETIAP kaum muslimin mempunyai tanggung jawab keummatan yang tidak boleh terlepas dari dirinya, yakni menegakkan kebenaran. Tanggung jawab ini menjadi melekat pada siapa saja yang telah menyandang predikat sebagai orang yang telah berserah diri kepada Allah, muslim. Apabila seseorang telah mengikrarkan diri bergabung dalam ikatan dienul Islam, maka secara otomatis tawar-menawar tidak berlaku lagi, bagaimana pun juga bentuknya. Sekecil apapun bentuk tanggung jawab itu.
Sebagaimana halnya bila kita bekerja pada sebuah perusahaan, maka aturan-aturan yang ditegakkan oleh perusahaan semestinya patuhi. Kita tunduk dengan apa yang telah ditetapkan di dalamnya. Sebagai bentuk pembantahan, resikonya bisa dirasakannya sendiri. Mungkin berupa teguran, peringatan, penundaan kenaikan jabatan atau bahkan di-PHK. Begitu pula bila kita memasuki atau menjadi anggota dari sebuah komunitas --bahkan juga negara. Komunitas itu memiliki aturan, yang tidak bisa kita bantah, kecuali kita akan mendapatkan hukuman.
Demikianlah halnya dengan al-Islam agama yang mulia ini, perlu ditegakkan dengan kemuliaan, dengan kebenaran, oleh orang-orang yang telah mengikatkan diri dengannya. Hanya bedanya, di dalam Islam, pelaksanaan segala macam aturan dan larangan itu dimulai dari kesadaran lubuk hati yang paling dalam sehingga tidak ada sesuatupun yang merupakan paksaan. Syariah Islam tidak memerlukan polisi, karena tidak ada gunanya pelaksanaan sesuatu bila tidak dilandasi keikhalasan dan semangat mengabdi kepada Allah secara tulus.
Dengan cara benar
Allah berfirman, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, 'Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.'" (QS al-Baqarah: 219)
Seorang anak muda yang baru tersentuh dengan penjelasan ayat ini, ada yang segera bergegas ke tempat maksiat. Dalam benaknya, untuk mendekati para peminum dan orang-orang yang masih gemar berjudi, harus ikut minum-minum juga dan berjudi juga. Alasannya sederhana, agar dapat merasakan bagaimana sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu. Dengan demikian ia akan mengetahui di mana sela-sela yang bisa dimasuki untuk kegiatan amar ma'rufnya. Untuk mereka yang memiliki tingkat iman yang kuat, apa yang dilakukan ini semacam uji coba benteng pertahanan imannya. Seperti halnya yang pernah dilakukan oleh KH Hasyim Asy'ari, para pemabuk dan penjudi itu akhirnya bertaubat dan bahkan di atas perkampungan judi itu didirikan sebuah pondok pesantren. Tetapi untuk mereka yang tidak punya dasar?
Sekilas apa yang anak muda ini lakukan cukup masuk di akal. Apalagi ditambah dengan segenggam argumentasi yang cukup meyakinkan. Sebelum bertindak segalanya diselidiki dahulu, katanya. Tetapi bukankah itu sama dengan bermain api? Sebab risikonya cukup tinggi lantaran ia sendiri belum meliliki landasan pijak yang kuat. Bagaimana bila nantinya malah ia sendiri terjerumus ke dalamnya?
Versi lain dari kasus yang dilakukan oleh anak muda itu, banyak kita jumpai di lapangan. Ada yang berprinsip, kalau ingin membenahi, lebih baik dari dalam. Artinya, masuk dulu, baru kemudian lakukan sesuatu. Teriak-teriak dari luar jarang sekali didengar. Tetapi bagaimana kenyataannya setelah mereka benar-benar masuk? Jangankan membenahi, menjaga diri saja sudah sulit. Budaya yang sudah mengakar rupanya begitu kuat mempengaruhi para pendatang baru, sehingga siapa sajapun kemudian harus melakukan kesalahan dan penyelewengan yang sama.
Ada pula yang berseberangan sama sekali dengan cara di atas. Mereka menolak mentah-mentah, lalu melakukan aksi dengan caranya sendiri. Ada yang hanya degan demostrasi, tetapi ada pula yang lebih dari itu, mulai dari perusakan-perusakan hingga aktivitas terorisme. Tindak ke-makar-an itu bisa sampai merusak lingkungan sendiri. Akhirnya kesan yang muncul justru sebaliknya. Pandangan orang terhadap Islam menjadi kabur, seolah Islam identik dengan kekerasan. Islam itu kejam dan selalu berwarna merah, tidak pernah sejuk dan memberikan kesejukkan.
Yang lebih memperihatinkan lagi bila cara yang keliru seperti itu kemudian dimanfaatkan oleh 'orang lain' untuk mewujudkan kepentingannya, sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah, atau juga di Aljazair. Kesan kesejukan Islam hilang sama sekali, karena ditunggangi kalangan tidak bertanggung jawab yang tega membunuhi orang dan menculik gadis-gadis untuk diperkosa dan akhirnya dibunuh juga.
Ini sungguh tragis jadinya, Islam seolah tidak pernah tampil menenteramkan panggung dunia. Padahal, dalam peperangan yang paling sengit sekalipun agama menuntun kita supaya tidak kehilangan keseimbangan. Kesucian perang harus tetap dijaga, jangan sampai ternodai oleh kehendak nafsu. Wanita, anak kecil, orang tua jompo, sampai kepada tumbuh-tumbuhan harus tetap memperolah hak-hak hidup dan hak-hak aman. Ini tidak mungkin akan diperoleh dari sebuah pergulatan yang dipenuhi oleh hawa nafsu. Perang sebagai wujud menegakkan iman boleh berkibar sedahsyat-dahsyatnya, akan tetapi nafsu harus ditempatkan di samping. Bila kebesaran perang karena kebuasan nafsu, maka kemenangan yang dihasilkan adalah kemenangan nafsu, bukan iman. Bila ini yang terjadi, maka tidaklah akan pernah ada perdamaian kecuali akan ditumbangkan oleh kekuatan nafsu juga. Umur dari kemenangan yang seperti ini biasanya tidak bertahan lama.
Jadi jelaslah sebenarnya, untuk menegakkan kebenaran, perlu ditempuh dengan cara yang benar pula. Untuk mewujudkan keadilan, perlu ditempuh dengan cara yang adil, bukan dengan cara yang tidak berprikeadilan.
Niat menegakkan kebenaran
Semangat untuk menegakkan kebenaran harus diniatkan semantap-mantapnya. Niat yang mantap ini perlu agar kerja menegakkan kebenaran tidak hanya mengikuti arah angin saja, tidak sekadar ikut-ikutan: bila sedang tidak ada gairah maka berhentilah sudah. Niat ini semestinya dikukuhkan dan dikokohkan dalam sanubarinya yang paling dalam, sehingga akarnya benar-benar kuat tidak mudah dipengaruhi oleh ancaman-ancaman maupun godaan.
Apalagi menegakkan kebenaran ini bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan secara sambilan. Tanggung jawab ini memerlukan kesungguhan luar dalam, perlu keseriusan lahir dan batin. Sebagai contoh tidaklah jauh-jauh atau yang tinggi-tinggi, untuk menegakkan shalat wajib secara baik dan benar. Agar tetap beristiqamah menjalankan kewajiban ini jelas diperlukan dorongan ruhani yang kuat. Bila tidak, bisa terpental-pental. Niat dan tekad kuat itu yang membuat kita bisa tegak berdiri dan diberi kemampuan untuk melaksanakannya.
Belum lagi bicara shalat tepat pada waktunya, terlebih untuk bisa melakukannya dengan berjamaah. Ini semua merupakan pekerjaan yang tidak ringan. Karena lawannya adalah diri sendiri, musuhnya adalah kemalasan yang tumbuh dari hawa nafsu sendiri.
Tidak perlu takut
Untuk menyampaikan sesuatu yang benar sebagai kebenaran, orang sering dihantui rasa takut. Belum sepatah kata keluar dari mulutnya seolah-olah setumpuk masalah sulit sudah menghadangnya. Baru saja keinginan untuk itu muncul, segudang keraguan, kekhawatiran, dan rasa cemas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ketakutan itu hanyalah bayang-bayang yang tidak semestinya terjadi. Namun sudah barang tentu untuk tidak gampang takut dengan hal yang seperti itu juga tidak mudah, harus terpenuhi dahulu syarat-syaratnya. Syarat inilah yang terkadang sangat berat dipersiapkan.
Jauh sebelum materi kebenaran itu disampaikan, semestinya terlebih dahulu kebenaran akrab dengan dirinya, dengan pribadi dan jiwanya. Sebab orang yang ngomong doang, sebentar saja akan dilecehkan orang lain, ibarat pemabuk yang menasihati anaknya agar jangan mabuk-mabukan. Bila syarat seperti itu telah dipenuhi, barulah ada perasaan kuat untuk mengamalkan seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah dalam haditsnya berikut ini:
"Rasa takut (segan) terhadap manusia jangan sampai menghalangi kamu untuk menyatakan apa yang sebenarnya jika memang benar kamu melihatnya, menyaksikannya atau mendengarnya." (HR Ahmad)
Hadits serupa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, bahkan mengandung penekanan yang lebih jelas, "Janganlah takut berada di jalan Allah terhadap celaan orang yang sukan mencela." Aku berkata, "Tambah lagi ya Rasulullah." Beliau melanjutkan pesannya, "Katakanlah apa yang hak meskipun akibatnya terasa pahit."
Rasulullah saw sendiri sudah mengisyaratkan, bahwa akibatnya akan pahit. Tetapi itu hanya sebatas di dunia. Sama dengan orang yang harus menelan obat, seberapapun pahitnya bila yakin bahwa itu akan menyembuhkan, seharusnya ditempuh juga.
Sekali lagi, perkara menegakkan kebenaran ini jangan dianggap sebagai hak (asasi) melainkan kewajiban. Kita tidak bisa berkilah bahwa merupakan hak kita untuk melakukannya atau tidak melakukan. Bila kita telah mulai melalaikan kewajiban ini, maka kita telah mengingkari amanat dari missi suci Islam untuk menjaga ketenteraman dunia.

Jangan Takut Gemuk Karna Nasi

 Nasi merupakan salah satu makanan yang dianggap bisa menaikkan berat badan. Banyak studi menunjukkan bahwa nasi memiliki tinggi karbohidrat dan tepung. Beberapa penelitian pun mengatakan nasi adalah pilihan makanan bergizi yang menyehatkan dan tidak mengakibatkan kenaikan berat badan.

Oleh karena itu, ada baiknya Anda mempertimbangkan nasi untuk menjadi makanan utama sehari-hari. Seperti yang dikutip dari idiva, ini dia lima mitos makan nasi mulai dari tidak mengandung protein hingga membuat tubuh 'membengkak'.

1. Nasi Mengandung Gluten atau Zat Perekat
Banyak orang menganggap nasi lengket karena mengandung gluten. Gluten adalah protein lengket dan elastis yang terkandung dalam beberapa jenis sereal, terutama gandum dan makanan bertepung lainnya. Pada beberapa orang, gluten bisa menyebabkan alergi. Kenyataannya nasi bebas gluten serta termasuk makanan yang tidak membuat alergi dari semua jenis biji-bijian.

2. Nasi Tidak Mengandung Protein
Sebagian orang menganggap bahwa nasi tidak mengandung protein. Namun faktanya, nutrisi kedua dalam nasi yang paling banyak selain karbohidrat adalah protein. Protein nasi dipercaya memiliki kualitas tertinggi dibandingkan biji-bijian lainnya.

3. Nasi Bisa Buat Tubuh Gemuk
Umumnya wanita menjauhi nasi karena tidak ingin gemuk. Mereka lebih memilih makan buah-buahan dan sayuran tanpa nasi dibandingkan banyak mengonsumsinya. Ternyata, nasi bebas lemak dan kolesterol. Nasi menjadi sumber energi Anda karena mengandung karbohidrat. Karbohidrat membantu tubuh menjalankan fungsinya dengan baik. Anda disarankan memilih beras basmati untuk dikonsumsi karena rendah lemak.

4. Nasi Mengandung Kadar Garam yang Tinggi
Faktanya nasi tidak memiliki kadar garam sama sekali. Orang yang makan nasi umumnya merupakan orang-orang yang memperhatikan asupan garam dalam tubuhnya. Maka dari itu, jangan takut banyak mengonsumsi nasi hanya karena tidak mau asupan garam dalam tubuh menjadi berlebihan.

5. Makan Nasi Malam Hari Buat Tubuh Gemuk
Sebagian wanita yang diet penurunan berat badan tidak mau mengonsumsi makanan berat pada malam hari. Mereka juga cenderung menjauhi nasi. Ternyata, makanan yang berkarbohidrat dicerna untuk membentuk glukosa seperti beras atau gandum sebaiknya di makan malam hari. Hal ini karena untuk mencerna karbohidrat kompleks membutuhkan waktu dua jam. Glukosa yang menyerap dalam darah lebih mudah diubah menjadi energi. Bila dimakan pada siang hari, glukosa malah akan mengubahnya menjadi lemak.

Mengatasi Rasa Takut Mati

Kematian adalah keniscayaan yang tak terbantahkan. Secantik apapun istri atau setampan apapun suaminya jika kematian menghampiri tetap saja mesti ditinggalkan. Banyak harta juga tidak dapat menunda kematian barang sedetik. Demikian juga kekuasaan, walapunun presiden sebagai pemimpin tertinggi suatu negara, jika kenatian menghampiri tidak terbantahkan.
Namun sayangnya, kematian masih tetap merupakan momok menakutkan untuk dihadapi. Kebanyakan yang takut mati adalah mereka yang merasa berhasil dalam memenuhi kenikmatan duniawi. Harta, wanita, dan tahta. Sebaliknya, mereka yang sulit hidup sepertinya ingin mati cepat agar terbebaskan dari penderitaan di dunia. Sayangnya mereka yang merasa kesulitan dalam kehidupan di dunia lupa bahwa jika mereka meninggal dalam menderita, pikirannya begitu terikat terhadap obsesi yang belum terpenuhi sehingga ia lahir lagi untuk memenuhi obsesi.
Bagaimana melampaui rasa takut akan kematian?
‘ Rasa takut akan kematian hanyalah teratasi ketika intuisi manusia cukup berkembang untuk memahami Kebenaran Hyang Maha Tinggi.‘ ( The Holy Vedas, Centre for Vedic & Dharmic Studies )
Pertanyaannya, ‘Apakah yang dimaksud Kebenaran Hyang Maha Tinggi?’
Tidak perlu berguru atau bertapa untuk mengetahui kebenaran yang maha tinggi. Kebenaran Hyang Maha Tinggi dapat dilihat dengan mudah di sekitar kita. Yang dibutuhkan hanya keterbukaan diri. Sama sekali bukan rahasia. Kesempatan diberikan oleh Tuhan untuk menyelami kebenaran yang maha tinggi.
Fahami bahwa manusia terdiri dari 3 bagian: Badan, pikiran, dan roh atau jiwa. Inilah tri-tunggal kudus yang menciptakan manusia di bumi. Kita sering mengidentikan diri kita hanya sekedar badan. Badan tidak abadi teman.
Ketidakabadian. Tiada sesuatu yang abadi di bumi ini. Semuanya akan berakhir atau berlalu. Bahkan kematianpun tidak abadi. Semua yang di bumi ini mengalami siklus daur ulang. Jika kematian berakhir karena roh masuk surga atau neraka dan menunggu sampai hari pengadilan tiba, berarti manusia mengalami keabadian. Dan ini tidak mungkin karena melanggar hukum alam.
Badan yang ditinggalkan oleh ruh akan membusuk dan terserap ke dalam tanah. Oleh tanaman cairan yang berasal dari tubuh manusia dikonsumsi oleh tanaman. Pikiran manusia bukanlah yang ada dalam otak. Suatu yang berada di luar otak manusia. Saat badan meninggal, ia tetap berada di atmosfir menunggu badan baru lagi.
Karena mind terbentuk dari materi yang berasal dari bumi, ia akan tetap berada di batas lingkup grafitasi bumi. Ia memiliki kemampuan untuk membentuk badan baru lagi.
Roh masih begitu terikat oleh mind. Jika ingin mind berastu dengan alam semesta, ubahlah cara pikir kita dengan tidak hanya memikirkan materi keduniawian. Pola pikir yang selaras dengan sifat alam semesta membentuk mind yang selaras dengan sifat alam. Kemudian, dengan sendirinya mind dapat terirai kembali ke elemen alami .Air, api, angin, tanah, dan ruang.
Dengan menyadari dan selalu ingat akan Kebenaran Hyang Maha Tinggi ini, rasa takut akan kematian bisa diatasi. Rasa takut kematian terjadi karena kita begitu terlibat akan urusan dunia. Lupa bahwa tiada sesatu yang abadi…

Kebenaran Harus Ditegakkan

Hi Guys Kali Ini Saya Akan Memposting Bagaimana Cara Agar Menegakkan Kebenaran
Langsung Kita Baca Aja Ya Guys

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (Q.S Al Anfal :30)

Resiko bagi yang mencoba menegakkan kebenaran :

1. Dipenjara.
2. Dibunuh.
3. Diusir

JANGAN TAKUT MENEGAKKAN KEBENARAN
"Rasa takut (segan) terhadap manusia jangan sampai menghalangi kamu untuk menyatakan apa yang sebenarnya jika memang benar kamu melihatnya, menyaksikannya atau mendengarnya." (HR Ahmad)

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, "Janganlah takut berada di jalan Allah terhadap celaan orang yang suka mencela." Aku berkata, "Tambah lagi ya Rasulullah." Beliau melanjutkan pesannya, "Katakanlah apa yang hak meskipun akibatnya terasa pahit."

Rasulullah saw sendiri sudah mengisyaratkan, bahwa akibatnya akan pahit. Tetapi itu hanya sebatas di dunia. Sama dengan orang yang harus menelan obat, seberapapun pahitnya bila yakin bahwa itu akan menyembuhkan, seharusnya ditempuh juga.

Allah SWT memerintahkan manusia agar menegakkan kebenaran bersikap dan berprilaku jujur, berani mengatakan yang benar meskipun perkataan yang benar tersebut akan mengakibatkan dirinya dimusuhi, dikucilkan, dianiaya bahkan kehilangan nyawa. 

Sebagaimana Firman Allah SWT yang artinya,
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan." (QS. An Nisaa": 135).

Ayat di atas memerintahkan hamba Allah SWT yang beriman benar-benar menegakkan kebenaran dan menghukum dengan seadil-adilnya meskipun yang bersalah, keluarga sendiri bahkan orangtua kandung sendiri. Jangan tebang pilih atau pandang bulu dan mengikuti kehendak hawa nafsu dalam memutuskan suatu perkara. Allah SWT memberikan mandat kepada manusia sebagai khalifah di bumi agar menjadi penegak kebenaran, tanpa ragu-ragu.

Dalam Sebuah hadits Qudsi dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Allah SWT berfirman : Hai hambaKu sesungguhnya Aku mengharamkan terhadap diriKu berbuat zalim dan yang demikian berlaku pula untuk kamu. Maka janganlah kamu berbuat kezaliman. Kehancuran umat terdahulu adalah karena mereka berbuat zalim dan sewenang-wenang." (HR. Muslim).

Sebagai seorang muslim haruslah menjadi suri teladan dan menjadi rahmat bagi semesta alam dan senantiasa berkata benar sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas"ud dari Rasulullah SAW beliau bersabda: "Sesungguhnya kebenaran itu membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke syurga. Dan sesungguhnya orang yang membiasakan dirinya benar dalam segala tingkah lakunya akan dicatat Allah sebagai orang yang selalu benar. Sedangkan kedustaan itu membawa kepada penyelewengan dan penyelewengan itu membawa ke neraka dan orang-orang yang membiasakan berdusta akan dicatat Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari). 

Sudah saatnya bangsa ini menegakkan kebenaran di negerinya agar Allah SWT menurunkan karunia, nikmat dan rahmat dari langit dan bumi. Kehancuran suatu bangsa di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran bagi kita. Mereka itu mengingkari perintah Allah SWT berbuat zalim dan melampaui batas. Mereka yang menjadi ulil amri di negeri ini berkuasa atas kehendak Allah SWT dan mereka harus menjalankan kekuasaannya sesuai dengan kehendak si pemberi kuasa. Dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara harus menjalankan otoritas yang diberikan Allah berkata benar dan menegakkan keadilan.

Mereka harus mempergunakan mata dan telinganya untuk melihat dan mendengar realita di tengah-tengah masyarakat. Betapa saat ini masyarakat belum sepenuhnya merasakan kebenaran dan keadilan itu ditegakkan. Masyarakat lebih sering melihat tontonan kebohongan dari elit politik di negerinya yang terjerat kasus korupsi. Putusan-putusan hakim banyak yang justru mencederai rasa keadilan. 

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: "Apakah engkau hendak meminta keistimewaan dari pelaksanaan hukum-hukum Allah? Sesungguhnya kehancuran umat-umat terdahulu karena bila yang mencuri rakyat jelata mereka hukum, tetapi kalau yang mencuri orang yang berpangkat mereka biarkan saja. Demi Allah yang memelihara jiwa saya kalau Fatimah binti Muhammad mencuri saya potong tangannya." (HR. Bukhari).

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Ma-idah [5] : 8)

Tak selamanya usaha menegakkan kebenaran berjalan mulus. Yang lebih sering terjadi justru menemukan jalan terjal dan berliku. Meski demikian, kebenaran tetaplah harus ditegakkan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat.

Penghalang ditegakkannya kebenaran

Penghalang ditegakkannya kebenaran ada yang bersifat internal ada juga eksternal.
Berikut penghalang-penghalang tersebut.

Kejahilan
Orang-orang yang jahil tidak mengetahui kebenaran, tidak dapat membedakannya dari yang salah, dan tidak punya keinginan untuk menerapkannya. Mereka hanya melakukan sesuatu yang dianggap benar oleh kebanyakan orang saja. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT):“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"” (Al-Baqarah [2]: 170)

Hawa Nafsu
Hawa nafsu mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Tidak peduli apakah hal itu baik atau buruk akibatnya, benar atau salah menurut aturan Allah SWT. Jika hawa nafsu telah menguasai seseorang dan mengalahkan imannya, maka yang akan mengemuka adalah sikap-sikap dan perilaku negatif serta destruktif.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda: “Perintahkanlah kepada manusia agar berbuat ma’ruf dan agar mereka mencegah yang mungkar, sehingga apabila kalian melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan dan rasa takjub orang yang berpendapat terhadap pendapatnya sendiri; maka hendaklah kalian menjaga diri-diri kalian, dan tinggalkan orang-orang itu.” (Riwayat Abu Daud dari Abu Umayyah As-Sya’bani)

Kesombongan
Banyak juga didapati orang-orang yang menolak kebenaran karena kesombongan dirinya. Mereka mengetahui kebenaran namun angkuh, sehingga menolak pendapat orang lain yang sesungguhnya lebih benar. Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW di dalam Hadits beliau:“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia,” (Riwayat Muslim)

Permusuhan Orang-orang Kafir
Orang-orang kafir yang mengingkari kebenaran Islam memerangi kaum Muslim secara fisik, seperti agresi militer dan penjajahan ekonomi, maupun secara pemikiran (ghazwul fikr). Mereka perdayakan umat Islam untuk menerima ideologi serta budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Mereka menyebarkan berbagai syubhat dan kebohongan agar umat Islam semakin jauh dari ajaran agamanya, dan masyarakat membenci Islam. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” (As-Shaf [8]: 

Penyeru kepada Kesesatan
Di samping orang-orang yang jelas-jelas kafir, di tengah umat Islam sendiri juga terdapat orang-orang yang selalu menimbulkan kerusakan dan menyesatkan umat dari kemurnian ajaran Islam. Meraka berasal dari latar belakang keluarga Islam, hidup di tengah-tengah umat Islam, berbicara atas nama Islam dengan hujjah-hujah ajaran Islam. Tetapi pendapat-pendapat mereka jauh dari al-Qur`an, Sunnah serta ijma’ para ulama yang shalih.
Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW. Suatu hari, sahabat Hudzaifah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang keadaan yang akan dialami oleh kaum Muslimin sepeninggal beliau. Beliaupun menjelaskan kepada Hudzaifah tentang datangnya suatu masa di mana terdapat para penyeru yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam. Ciri-ciri mereka dijelaskan oleh Rasulullah dalam Hadits beliau:“… Mereka itu dari jenis kulit-kulit kita dan berbicara dengan lidah kita …”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Tips Sukses Menegakkan Kebenaran
1. Memahami kebenaran dari sumber yang benar
Kita tidak akan pernah dapat menegakkan kebenaran sampai sungguh-sungguh memahami kebenaran itu sendiri. Kebenaran itu berasal dari Allah SWT, Tuhan yang Maha Benar (al-Haqqu). Diturunkan melalui para Rasul, manusia pilihan yang selalu benar dalam ucapan dan tindakannya (as-Sidqu).Maka, manusia akan sampai kepada kebenaran tersebut jika mereka mengambilnya dari Allah SWT (al-Qur`an), dari Rasul-Nya (al-Hadits), dan dari para ahli ilmu yang shalih yang pendapat-pendapat mereka selalu berpegang kepada al-Qur`an dan As-Sunnah tersebut.
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Al-Baqarah [2]: 147)

2. Memohon kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang benar
Di samping usaha yang sungguh-sungguh itu, kita juga harus berusaha untuk meminta bimbingan dan petunjuk kepada Allah SWT, Dzat yang Maha Benar, agar kita diberi-Nya cahaya kebenaran dan hati kita terbuka untuk menerimanya. Seperti doa berikut: “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu nyata benarnya, dan berikanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang salah itu nyata salahnya, dan berilah kami kemampuan untuk meninggalkannya.”

3. Mendakwahkan kebenaran dengan hikmah
Menyampaikan kebenaran tidak boleh dilakukan dengan serampangan, tanpa tahapan serta adab sopan santun. Karena, diterimanya suatu kebenaran itu bukan saja karena materinya yang benar, tetapi caranya juga diperlukan dengan hikmah. Allah SWT memerintahkan kepada kita,“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl [16]: 125)
Suatu hari ada seorang Arab Badui yang kencing di Masjid di mana Rasul SAW dan para sahabat berada. Pada sahabat marah dan hendak memukul orang tersebut. Namun, Rasulullah SAW tidak ikut terpancing emosi. Ia justru memerintahkan para sahabat untuk membiarkan dulu orang itu menyelesaikan hajatnya, baru kemudian meminta mereka mengambil air dan menyiramkannya.

4. Mensikapi orang-orang yang tersesat dengan kasih sayang
Tumbuhkanlah rasa kasih sayang kepada orang-orang yang belum mengetahui, bahkan menyimpang, dari kebenaran, sebagaimana kita menyayangi orang-orang yang kita cintai, tersesat di hutan belantara. Bersikaplah empati terhadap kekeliruan mereka dan akibat yang akan mereka alami. Dengan begitu, kita akan bersungguh-sungguh mengingatkan mereka, meyakinkan mereka, dan mencegah mereka agar tidak mengambil tindakan yang salah. Seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW.“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah [9]: 128)

5. Menjadi teladan dalam menegakkan kebenaran
Kebenaran tidak cukup hanya dikatakan saja, tapi harus didemonstrasikan agar masyarakat mengetahui secara pasti perbedaan antara yang benar dan yang salah, dan manfaatnya bagi kehidupan mereka.Kebatilan itu seperti kegelapan, sedang kebenaran itu ibarat cahaya. Gelap tidak akan pernah berubah hanya dengan mengatakan: “Wahai terang datanglah dan wahai gelap pergilah”. Kegelapan hanya akan lenyap saat kita datang membawa cahaya. Allah SWT berfirman:“Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al-Isra’ [17]: 81)

6. Jangan lelah berdoa agar Allah memberi petunjuk
Sebelum Umar bin Khaththab menjadi Muslim, Rasulullah SAW selalu berdoa agar kekuatan Islam diperkokoh dengan masuknya salah satu dari dua Umar: “Ya Allah, Islamkan salah satu diantara dua ‘Umar”. Dua Umar tersebut yaitu Umar bin Khatthab dan Amru bin Hisyam (Abu Jahal) yang pada awal dakwah Islam merupakan tokoh paling keras permusuhannya terhadap Rasulullah SAW dan kaum Muslimin.
Demikian juga ketika Rasulullah SAW mendapatkan perlakukan yang tidak bersahabat dari penduduk Thaif, sebaliknya, beliau malah memohonkan ampunan dan mendoakan agar suatu saat ada di antara mereka yang mengikuti Islam.

Wallahu a’lam bish shawab. 

5 Langkah Mudah untuk Belajar

Guys Berjumpa Lagi Dengan Saya disini , Saya akan membagikan postingan yang bermanfaat untuk anda semoga anda menyukai postingan saya ya guys

Belajar dan fokus mengerjakan tugas memang seringkali menjadi sesuatu yang menyebalkan, terutama bagi mahasiswa yang merasa jaman sekolah sudah berakhir. Ini dikarenakan pikiran mahasiswa lebih kompleks dibandingkan anak sekolah, dan tentunya untuk mahasiswa kosan gak ada lagi omelan ibu atau ayah yang menyuruh kamu buat belajar.Apalagi untuk ujian semester yang sering banget disepelekan dan membuat kamu menghadapinya dengan sistem kebut semalam. Belum lagi sidang skripsi yang bikin stress, sehingga malah membuat ngeblank. Itulah gunanya konsentrasi yang berpengaruh terhadap persiapan kamu menghadapi ujian apapun.
Berikut adalah beberapa cara yang bisa kamu coba untuk meningkatkan konsentrasi belajar.
Jangan Lari dari Masalah
Dunia mahasiswa sering banget bikin kita terlibat dalam berbagai masalah, baik dengan pacar, dosen, teman, bahkan abang PKL di depan kampus. Ini yang bikin kamu susah untuk berkonsentrasi, akibat berbagai masalah yang selalu timbul di pikiranmu. Untuk itu, cobalah berusaha untuk tidak lari dari masalah. Jika kamu bisa menghadapi semua permasalahanmu dengan berani, maka kamu tidak akan dikejar oleh perasaan galau dan cemas yang bisa memecahkan konsentrasi.
Jaga Kesehatan
Kesehatan adalah hal yang sangat penting bagi tubuh. Dengan tubuh yang sakit, maka kamu akan kesulitan untuk berkonsentrasi. Untuk itu, jangalah pola makan, jangan memforsir tubuh dan rajin berolahraga minimal jogging. Dengan tubuh yang sehat dan bugar, maka konsentrasimu akan lancar.
Buat Jurnal
Terbiasa membuat Jurnal akan membuat kamu terbiasa untuk mencatat dan mengingat hal-hal penting, serta membuat kerangka pemikiran dari berbagai hal. Kebiasaan ini tidak hanya akan melatih konsentrasi, tapi juga analisa terhadap permasalahan yang ada. Seorang penulis buku bernama Catharine M. Cox pernah mempelajari kebiasaan dari 300 orang jenius, seperti Einstein, Isaac Newton, Thomas Jefferson dan lainnya yang ternyata rajin menulis jurnal dan memiliki buku harian. Bahkan sepanjang hidupnya, Thomas Edison menulis 3 juta halaman catatan, surat, dan pemikiran pribadinya dalam ratusan jurnal pribadi.
Latihan “Brain Gym”
Brain Gym merupakan olahraga otak yang dilakukan dengan sederhana. Olahraga ini dikembangkan oleh spesialis pendidikan bernama Dr. Paul Dennison, untuk membantu manusia dalam melakukan pemahaman terhadap sesuatu, melatih konsentrasi, berpikir secara abstrak, melatih daya ingat, mengatasi keletihan mental, menyelesaikan tugas, serta melatih keseimbangan fisik dan koordinasi. Kalau ingin mencobanya, berikut adalah 3 olahraga otak yang bisa kamu lakukan.
Brain Buttons merupakan latihan yang bermanfaat meningkatkan aliran darah ke otak, sehingga keterampilan konsentrasi untuk membaca, menulis dan lainnya dapat meningkat.
Ambil satu tangan dan buatlah ruang selebar mungkin diantara ibu jari dan jari telunjuk. Letakan telunjuk dan jempol ke dalam lekukan yang berada di bawah tulang selangka di setiap sisi ruas dada. Tekan dengan perlahan hingga terasa berdenyut. Saat yang sama, pada tangan yang lain buat posisi tangan yang sama, namun letakan di sisi lain yang berada di atas area pusar. Tekan-tekan dengan lembut selama 2 menit.
Cross Crawl merupakan  latihan yang dapat membantu kamu mengkoordinasikan otak kiri dan kanan untuk saling bertransformasi informasi. Ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan mengeja, mendengar, menulis, membaca dan memahami.
Posisikan tubuh antara duduk dan berdiri. Kemudian letakan siku kanan pada kaki kiri dan lakukan gerakan mengangkat tubuh dan menurunkan kembali. Lakukan secara bergantian pada siku kanan dan kaki kanan. Lakukan ini selama dua menit.
Hook Ups merupakan latihan yang sangat bagus untuk menenangkan pikiran dan syaraf, serta meningkatkan konsentrasi ketika menghadapi moment tertentu seperti presentasi atau sidang skripsi.
Silangkan kaki kanan di atas kaki kiri tepat di pergelangan kaki. Lakukan juga pada tangan, dengan cara menyilangkan pergelangan kedua tangan dan saling menggenggam di antara jari-jari dengan posisi pergelangan tangan kanan berada di atas.
Dengan lembut tekuk siku dan putar jari-jari dalam menuju tubuh sehingga menekan tulang dada bagian tengah, diamkan beberapa menit sambil berkonsentrasi dan bernapas dengan tenang.
Meditasi
Meditasi adalah salah satu cara untuk melatih konsentrasi dan fokus pada satu titik untuk menghalau pikiran dari berbagai masalah, sehingga bisa bikin kamu lebih tenang dan ngilangin kegalauanmu.
Untuk melakukan meditasi, pastikan kamu dalam tempat yang tenang dan kehing. Ambil posisi duduk dengan cara bersila. Pejamkan mata, dan tarik nafas melalui hidung dalam hitungan 1-2-3…s/d 8 hitungan, kemudian tahan nafas di dalam dada dalam hitungan 1-2-3…s/d 8 hitungan. Buang napas dengan perlahan melalui mulut secara mendesis. Ulangi selama 5 kali.
Kemudian teruskan bernapas secara perlahan sambil beri sigesti agar dari ubun-ubun kepala hingga ujung jari-jari telapak kaki menjadi serileks mungkin. Kemudian bernapas secara alami dan buang nafas melalui hidung. Tahan posisi meditasi ini selama 20-30 menit. Selain untuk melatih konsentrasi dan memberi ketenangan, latihan ini juga baik untuk kesehatan.
Tidak sulit bukan? Kamu bisa lakukan dari sekarang! []

Tips Dalam Belajar

Sobat Blogger Kali Ini Saya Akan memposting Tips dalam Belajar Semoga ini bermanfaat untuk kalian


1. Pekerjaan bisa selesai lebih cepat, ini karena dari awal hingga akhir kita tidak memikirkan dan melakukan hal lain yang tidak perlu, semisal sambil main game, sambil chatting, sambil dengar lagu, dan sebagainya.

2. Lebih banyak hal yang bisa kita kerjakan, yakni bila satu pekerjaan bisa selesai lebih cepat itu berarti pekerjaan berikutnya bisa kita mulai lebih awal, dan begitu seterusnya hingga tidak terasa lebih banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam rentang waktu yang lebih sama.

3. Menutup ruang untuk menggerutu dan mengeluh, dua hal ini adalah hal yang sangat menghambat pekerjaan sekaligus memakan waktu yang banyak. Kenapa, karena menggerutu dan mengeluh adalah awal dari sifat bosan, malas, melamun, dan lain sebagainya. 

Saya kira tiga hal di atas sudah mewakili manfaat pikiran yang fokus. Berbeda dengan pikiran yang tidak fokus atau tidak tenang, hanya sedikit manfaat yang diperoleh, kalaupun ada itu hanya manfaat semu, seperti merasa senang dengan lamunannya, merasa bahagia dengan kegalauannya, dan lain-lain.

Dari uraian di atas, tentu semua orang ingin memiliki pikiran yang fokus, tapi sebagian orang tidak mengerti bagaimana caranya agar bisa seperti itu. Pikiran yang tidak tenang juga adalah penyebab pikiran menjadi tidak fokus, karena pikiran yang tidak tenang membuat seseorang tidak bisa gampang mencari solusi, malah seringkali hal yang memperparah fokus malah dianggap sebagai solusi, sehingga bukannya menjadi fokus, tapi malah menjadi semakin tidak fokus.

Adapun solusi yang bisa saya berikan agar pikiran kita fokus dalam belajar atau melakukan pekerjaan adalah;

1. Istirahat yang cukup, hal ini akan membuat pikiran kita fresh dan kepala jadi ringan. Badan juga terasa fit dan tidak lemas. Pikiran hanya bisa fokus bila tubuh kita sehat. Itulah mengapa kalau kita sakit sebaiknya tidak perlu ke sekolah atau istirahat saja, karena para pendidik tahu bahwa pikiran kita tidak bisa fokus jadi percuma saja bila belajar..

2. Makan yang makanan yang sehat dan secukupnya. Makan dengan tipe seperti itu akan membuat pikiran kita serasa plong, tidak ada gangguan dari perut atau efek pusing dari makanan yang masuk ke perut. Sebaliknya, perut yang kenyang akan membuat kepala jadi berat dan mudah mengantuk.

3. Selalu berusaha merilekskan pikiran. Pikiran yang rileks tidak ditunggu tapi dilatih dan diusahakan secara rutin. Caranya dengan menghindari ketergesa-gesaan, tenang dalam mempersiapkan aktivitas, dan pasrah saja dengan apa yang akan terjadi atau hasil dari yang kita usahakan. Yang utama dari semuanya adalah lebih mendekatkan diri pada Tuhan dengan selalu berdo’a kepadanya.

Oiya, saya lanjut sedikit promosi tentang dunia internet ya. Saat ini, akan sangat ketinggalan bila kita sama sekali tidak mengetahui bisnis online, karena semua orang mulai mengarah ke sana. Setiap tahun semakin bertambah orang yang meninggalkan pekerjaannya karena sudah mendapatkan uang yang lebih banyak melalui bisnis online. Tapi, menekuni bisnis online bukan berarti harus berhenti bekerja, semua bisa disesuaikan. Banyak juga yang menjadikan bisnis online sebagai aktivitas sampingan untuk memperoleh tambahan penghasilan. Bisnis online tidak mengikat, tidak kaku, tidak menegangkan, malah bisa jadi hobby, menyenangkan, dan akan menambah teman juga.

Ini ada seorang teman yang sedang membuka kelas belajar tentang bisnis online, namanya Mbak Dita Nadia. Orangnya cantik, ramah, pintar, gigih, dan sudah terkenal di kalangan dunia internet marketing. Dia membuka kelas online yang mengajarkan bagaimana memulai bisnis online dan beberapa teknik yang bisa dilakukan agar mendapatkan penghasilan. Saya sendiri sudah bergabung di sana. Yang baru belajar dan sudah pengalaman pun bisa bergabung. Untuk pemula akan ada materi tambahan mengenai pengenalan internet dan cara membuat blog.

Ada baiknya teman-teman baca sendiri di situsnya. Oiya, kelasnya berbayar Rp 597.000,- dan itu cuma sekali bayar saja. Mahal..? Saya yakin pasti banyak yang berpikir ini kemahalan, tergantung orangnya menilai. Kalau yang pernah belajar internet marketing secara otodidak pasti merasakan sendiri berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mengolah informasi yang berserakan di internet, sakit hati karena bertanya nggak ada yang jawab, itu pun masih banyak juga tetap bingung dan akhirnya berhenti dengan sendirinya dan menyalahkan orang lain yang dianggap pelit tidak mau berbagi.

Saya tidak mengatakan ilmu itu mahal, tapi yang mahal itu waktu. Kalau orang merasa bisa menggunakan waktunya untuk mendapatkan uang, tentu mereka akan lebih memilih melakukan hal yang bisa mendatangkan uang dari pada harus bersabar mengajari orang. Mengajari orang itu bukan perkara gampang, apalagi mengajari lewat online, susahnya minta ampun dan lama karena komunikasi tidak langsung. Jadi wajar kalau orang tidak mau berbagi gratis, karena waktu benar-benar punya nilai. Nah, kalau di kelas ini, Mbak Dita Nadia memang mau meluangkan waktu untuk itu, banyak video sudah dibuat sebagai tuntunan dalam belajar, orangnya juga aktif di grup untuk membagi ilmu dan menjawab pertanyaan yang ada.

Newer Posts Older Posts Home