Saturday, 4 April 2015

Arti Surah Al Imran

Ayat 151-160

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ
151. Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tak menurunkan keterangan tentang itu; dan tempat kembali mereka adalah neraka. Itulah seburuk-buruk tempat orang-orang yang lalim.
Rasa cemas yang masuk ke dalam hati tergantung kepada tingkat keraguan dan kekafiran. Apabila seseorang benar-benar menolak kebenaran Tuhan dan tidak percaya pada tauhid dan hari kiamat, ia akan lari dari peperangan melawan kebenaran karena takut mati. Hati orang beriman yang belum teguh juga akan mengalami ketakutan. Pada situasi ini, sebenarnya ia memperoleh kesempatan untuk bergerak menuju iman yang lebih dalam. Rasa takut orang beriman menantangnya untuk bangkit, sedangkan rasa takut orang-orang kafir hanya semakin memenjarakannya.
Implikasi lahiri ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang turut serta dalam perang Uhud. Ayat ini mengingatkan mereka agar tidak khawatir terhadap kekalahan mereka. Ayat ini juga menjelaskan bahwa rasa takut akan selalu hadir dalam hati orang-orang kafir, karena mereka tidak percaya kepada Allah dan kehidupan akhirat. Meskipun orang kafir tampak tidak takut, tak dipungkiri lagi, ia takut akan kematian.
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
152. Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka unttik menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Allah mempu-nyai karunia kepada orang-orang yang beriman.
Perang Uhud adalah perang yang tak pernah berakhir; kita turut serta di dalamnya di setiap waktu dalam kehidupan kita. Pada awal peperangan, kaum muslim masih bersatu, taat pada pemimpin mereka, dan tidak ada rasa takut. Kebimbangan, perselisihan, dan ketamakan memporak-porandakan persatuan dan kekuatan mereka. Lima puluh orang yang telah ditempatkan secara strategis oleh nabi mulai mendengar suara ego rendah dan godaannya. Setan mengganggu hati manusia; dalam Alquran banyak ayat yang menyamakan setan dengan manusia ketika kecenderungan rendah menguasai perbuatan manusia.
Selama masa sulit dan berat, manusia akan mendapatkan unsur-unsur yang mendalam pada dirinya, dan juga prioritas yang harus dilakukannya. Biasanya manusia yang tidak memiliki apa-apa lebih mudah untuk menjauhkan dirinya dari keinginan duniawi dan kekayaan. Meskipun demikian, orang ini, bila diajak ke pasar dan diberikan cek untuk dibelanjakan, akan timbul juga rasa tamak dan ra-kusnya. Di sini Allah menyatakan kepada orang-orang beriman bahwa di antara beberapa ratus orang yang mengiringi Nabi, dan juga termasuk para sahabat Nabi, terdapat sekelompok orang yang lebih cinta kepada harta benda dan rampasan perang daripada pengorbanan diri di jalan Allah.
Beberapa penafsir terkenal mendefinisikan "sahabat" sebagai orang yang pernah bertemu Nabi. Akar kata "sahabat" juga memiliki makna "menemani." Menurut sejarah, kata ini lebih dekat kepada pengertian orang-orang yang berada di masa Nabi, tetapi ini juga dapat berarti mereka yang bersama Nabi lahir-batin. Kami memperoleh informasi bahwa pada perang Uhud hanya tinggal dua orang yang tetap bersama Nabi hingga akhir pertempuran. Kita harus merenungkan peristiwa ini beserta implikasinya, dan tidak menganggap bahwa semua "sahabat" itu sejati dan dekat dengan jalan kenabian.
Ayat ini, dan beberapa ayat berikutnya, menceritakan secara rinci tentang peristiwa perang Uhud, perang yang terus berkobar sebagai realitas nyata di setiap waktu. Kita dapat dengan mudah menjadi penakut dan kehilangan keberanian karena perselisihan dan keraguan yang timbul dari kebimbangan, yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada kehancuran. Dalam hidup kita, perang dapat menjadi sebuah hal yang tidak bermakna hingga kita menyadari luasnya konsekuensi dari perang tersebut. Kita akan kalah dalam peperangan ketika kita lebih suka meremehkan—ketimbang menolong—seseorang dan menghasutnya kepada orang lain. Allah berfirman, "Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat." Ketika cinta kita terhadap dunia menang atas cinta terhadap akhirat, berarti kita telah kalah.
Bagaimanapun juga orang-orang yang ikut dalam perang Uhud selamat dari kehancuran total: dalam keadaan itu, kaum muslim mengalami kekalahan kecil, dan banyak yang berhasil menyelamatkan diri. Karena jumlah musuh mencapai 3000, bagaimanapun juga, ini merupakan kesuksesan besar, karena di pihak muslim, hanya sekitar 70 orang yang terbunuh.
"Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian."Ujian pada dasarnya merupakan sebuah berkah yang membuat kita merenungkan makna pengalaman serta tingkat kelemahan dan kekuatan kita. Hal ini merupakan manifestasi cinta Allah terhadap orang beriman sehingga orang tersebut dapat menyaksikan dirinya sendiri. Apabila ia tak menyaksikan dirinya sendiri di dunia ini, ia akan dihadapkan dengan hijab batin, tipu muslihat, dan kemunafikannya.
"Dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian." Mereka yang sungguh-sungguh memohon kebenaran akan diberikan satu kesempatan lagi untuk menyusuri jalan pengembangan spiritual. Ayat ini ditujukan kepada orang-orang beriman, yang akan menyadari tingkat di mana kecenderungan rendahnya dapat menguasainya.
إِذْ تُصْعِدُونَ وَلاَ تَلْوُونَ عَلَى أحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمَّاً بِغَمٍّ لِّكَيْلاَ تَحْزَنُواْ عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ مَا أَصَابَكُمْ وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
153. Ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seseorang pun, sedang Rasul memanggil kalian dari belakang. Allah menimpakan atas kalian kesedihan atas kesedihan, supaya kalian jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dan terhadap apa yang menimpa kalian. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Alquran melanjutkan ayatnya dengan penggambaran secara terperinci mengenai peristiwa perang Uhud. Kita mengetahui bahwa di antara pengikut Nabi, atau masyarakat yang dipimpin oleh orang-orang yang berilmu, ketika timbul kesulitan yang tampaknya tidak dapat diatasi, maka timbullah rasa lemah dan akhirnya lari. Keinginan untuk melarikan diri ini timbul dari kurangnya pengetahuan, kearifan, dan ketabahan hati.
Kita semua takut melihat dalam diri kita sendiri, karena di sana kita akan mendengar suara kebenaran kenabian yang akan menyulitkan kita. Kita tak ingin mendengar sesuatu yang akan menghalangi kita dalam upaya melarikan diri dari kesulitan lahiri yang muncul. "Sedang Rasul memanggil kalian dari belakang. Allah menimpakan atas kalian kesedihan atas kesedihan."Pada ayat ini Allah berfirman bahwa akibat dari tidak mendengar, melarikan diri, dan berusaha menghindari masalah—tindakan-tindakan yang menunjukkan kurangnya iman dan kewaspadaan— balasannya adalah "kesedihan atas kesedihan." Kita semua pernah mengalami saat ketika kita ingin memutuskan tali silaturrahim dengan seseorang yang kita janjikan bantuan, atau ketika kita ingin meninggalkan kebenaran yang telah kita pegang teguh.
Penderitaan (ghamm) pertama adalah kesedihan yang menimpa mereka karena mereka merasa lemah dan kalah. Penderitaan kedua adalah karena mereka menyalahkan orang lain. Kaum muslim pada perang Uhud bersedih atas apa yang mereka lakukan kepada Nabi, karena ketika kembali, mereka mendapati Nabi dalam keadaan terluka, bersama Ali, yang juga terluka, di sampingnya. Balasan bagi iman yang lemah dan ketiadaan disiplin adalah dua penderitaan. Ujian ini, yang ditimpakan kepada mereka, bukanlah sebagai hukuman, tetapi untuk menunjukkan kepada mereka berlakunya hukum aksi dan reaksi. Setiap orang harus belajar mengenali ketentuan hukum Allah yang berlaku dalam hidupnya dengan mengamati penderitaan dan kesedihan yang menimpanya.
"Supaya kalian jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dan terhadap apa yang menimpa kalian": inilah inti permasalahannya; kaum muslim diingatkan untuk tidak bersedih hati atas kekalahannya. Orang mukmin tidaklah bersedih atas apa yang telah terjadi. Ia hanya mengambil hikmah dari peristiwa di sekelilingnya, karena ia selalu merenungkan peristiwa itu dan karenanya bisa mengambil hikmahnya. "Tak ada tempat berhenti bagi orang-orang Madinah," sebagaimana dikatakan sebuah hadis. Mereka terus berjalan. Inilah sunah Nabi.
Kita sering berbicara tentang sunah Nabi, mengenai risalah dan rasul, tetapi apakah kita benar-benar memahami maknanya, dan apakah kita tahu bagaimana mengambil manfaat darinya? Sebuah ayat menyatakan: "Agar kalian tidak bersedih." Kesedihan pada dasarnya berasal dari situasi yang tidak seimbang. Kejelasan hanya datang ketika pertanyaan mengapa dan bagaimana sesuatu itu dijawab secara tepat. Karena itu, kesedihan merupakan perwujudan dari ketidaktahuan. Allah ingin orang-orang beriman menyadari hikmah dari apa yang terjadi pada mereka, agar mereka tidak bersedih tanpa alasan atas hilangnya sedikit harta benda. Allah juga ingin agar mereka memahami bahwa apa yang menimpa mereka sebenarnya merupakan bentuk manifestasi dari takdir, rahmat, dan keadilan Allah.
Para sahabat meraih kemenangan gemilang di dunia dan akhirat ketika mereka menaati Nabi pada perang Badr. Namun pada perang Uhud, mereka melanggar perintah, maka hasilnya adalah kekalahan duniawi dan penyesalan. Alquran meminta mereka agar tidak bersedih, tetapi justru mengajak mereka mengambil hikmah dan manfaatnya, sehingga kesalahan yang sama tak akan terulang kembali. Seseorang tak akan mengulangi kesalahan yang sama apabila ia secara sungguh-sungguh mengetahui penyebabnya, dan telah bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Misalnya, seorang anak yang terkena sedikit stmm listrik karena menyentuh kawat, ia mungkin tak sepenuhnya sadar atas bahaya tindakannya. Tetapi apabila ia terkena strum tinggi, maka ia akan ingat terus untuk tak pernah lagi menyentuhnya, karena ia telah sadar sepenuhnya atas akibat dari tindakannya itu.
"Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." Allah mengetahui semua perbuatan kita dan Dia juga mengetahui kebutuhan kita untuk memperoleh pengetahuan. Sesungguhnya Allah adalah sumber seluruh makhluk. Jalan menuju pengetahuan yang sesungguhnya diperoleh dengan berkomunikasi dengan hati nurani. Kita tidak boleh hanya bersedih atas perbuatan salah, tetapi kita juga harus mengambil tanggung jawab pribadi dan bersedih atas kelalaian kita. Apabila kesedihan kita tulus, kita tidak akan melupakan Allah, karena kesedihan yang tulus akan membawa kepada zikir dan keinginan untuk sadar. Inilah pelajaran dari perang Uhud. Setiap saat dan setiap keadaan adalah Uhud dan Karbala (padang pasir tempat Imam Husain terbunuh sebagai syahid). Keduanya bukan sekadar peristiwa masa lampau yang perlu diperingati secara seremonial. Peringatan tidak berguna apabila pelajaran darinya tak diterapkan dalam kehidupan kita.
ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاسًا يَغْشَى طَآئِفَةً مِّنكُمْ وَطَآئِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لاَ يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ مَّاقُتِلْنَا هَاهُنَا قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
154. Kemudian setelah kalian berduka cita, Allah menurunkan kepada kalian keamanan [berupa] kantuk yang meliputi segolongan dari kalian. Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, karena mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah kita memiliki hak campur tangan dalam urusan ini." Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam diri mereka apa yang tidak mereka terangkan kepada kalian. Mereka berkata: "Sekiranya kita memiliki hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tak akan dibunuh di sini." Katakanlah: "Sekiranya kalian berada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh akan keluar juga ke tempat mereka terbunuh." Allah menguji apa yang ada dalam hati kalian untuk membersihkan apa yang ada di dalamnya. Allah Maha Mengetahui isi hati.
Selama perang Uhud, benih kebimbangan telah menyebar di hati orang-orang yang imannya lemah melalui mulut setan yang mengajak mereka mengambil harta rampasan perang, dan kemudian menyebarluaskan desas-desus bahwa Nabi telah terbunuh. Kaum muslim pada saat itu tak mendengarkan suara hati nurani mereka mengenai pengorbanan diri, sebaliknya mereka justru mendengarkan bisikan ego yang rendah. Banyak kaum muslim yang berpikir bahwa karena Nabi telah meninggal maka perang pun telah usai, dan karenanya tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan dan berperang. Kemudian mereka memenuhi tuntutan musuh.
"Kemudian setelah kalian berduka cita, Allah menurunkan kepada kalian keamanan [berupa] kantuk yang meliputi segolongan dari kalian" Kelompok yang dimaksud di sini mungkin adalah kelompok sahabat yang bertempur dengan kekuatan penuh. Orang-orang beriman ini, dengan komitmen penuh, berada di tengah peperangan ketika tiba-tiba situasi menjadi berbalik; selama masa tersebut mereka tertidur. Dikabarkan bahwa kepala-kepala mereka berada di dada-dada mereka seolah rasa kantuk menyerang mereka (hal ini memungkinkan mereka untuk bangkit kembali). Kelompok lain "yang diliputi rasa gelisah" merasa khawatir terhadap diri mereka sendiri; mereka adalah kaum muslim yang imannya tipis.
"Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah." Hal ini terjadi karena mereka tidak memahami sepenuhnya jalan Allah. Nabi bersabda: "Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah berpikir tentang Allah." Bagaimana mungkin berpikir tentang Allah? Pada saat kita berpikir tentang Allah, kita akan terjebak pada ilusi. Oleh karena itulah, lebih baik kita memikirkan tentang ciptaan Allah dan hukum alam-Nya yang rumit, seimbang, dan sempurna, yang mengatur alam ini. Kita sebaiknya memikirkan karakter yang sepadan dan berlawanan dari aksi dan reaksi dan hubungan sebab-akibat. Kita sebaiknya memikirkan tentang keindahan, keseimbangan, dan keagungan alam ini. Tidak ada spekulasi tentang Allah, karena alam dan seluruh isinya menjadi tanda kekuasaan Allah, Sang Pencipta.
Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, karena mereka tidak mengetahui hukum-hukum Allah. Mereka berpikir bahwa karena mereka bersama Nabi, maka kekuatan gaib akan mengubah kondisi mereka. Mereka tidak menyadari bahwa mereka harus berusaha mencapai kesuksesan. Alam ini tercipta untuk menunjukkan kepada kita makna tauhid dan seluk-beluk pengaruhnya di segala bidang. Allah tampaknya ingin mengisyaratkan bahwa kita tidak dapat hanya bersandar pada pikiran yang penuh harapan dan takhayul. Kita perlu belajar bagaimana berjuang untuk diri kita sendiri, dan berinteraksi dengan Dunia untuk memperoleh hasil yang dunginkan. Pada perang Uhud, Nabi tidaklah gugur, dan melalui keimanan dan kesabarannya, ia dapat mengubah keadaan yang terjadi. Ali, sahabat Nabi, mempertahankan beliau dengan melawan dua puluh lawan, sehingga mampu menyelamatkan jiwa Nabi. Makna keberadaan Tuhan ditunjukkan kepada kita dalam wujud medan pertempuran yang di dalamnya kita dapat berbuat amal. Dengan menggunakan akal, kita dapat memahami bahwa satu orang yang tidak takut mati setara dengan beberapa orang yang takut dalam pertempuran. Keraguan akan merusak kelemahan, dan hati yang kuat akan selalu mendapatkan kemenangan.
Menurut fitrahnya, manusia ingin berhasil; karena itulah, kegagalan mengisyaratkan kebodohan dalam bentuk salah penerapan, salah penetapan waktu, takut, rakus, atau sifat bodoh lainnya. Kita tak boleh ingkar terhadap tanggung jawab, ataupun berkata bahwa kita tak tahu bagaimana melakukannya. Sebaliknya, masalah ini seluruhnya merupakan tanggung jawab kita, dan kegagalan seluruhnya merupakan kesalahan kita. Kesulitan berasal dari kita sendiri, sedangkan rahmat berasal dari Allah. Rahmat berasal dari hukum Allah yang bersifat abadi. Kita harus menyadari hukum-hukum ini untuk dapat menerapkannya, dan untuk hidup dinamis dalam perlindungannya. Melalui cara ini kita akan mengetahui makna penyerahan diri yang sesungguhnya dan makna alam akhirat yang tak berdimensi waktu dan tempat.
"Mereka berkata: 'Sekiranya kita memiliki hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tak akan dibunuh di sini.'" Inilah suara yang menyerukan ketakutan akan kematian. Sebelum perang, orang-orang munafik telah menciutkan nyali kaum muslim. Sekarang banyak orang muslim yang menyatakan bahwa jihad di jalan Allah adalah sesuatu yang telah usang dan sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang. Seseorang bisa saja dengan mudahnya memberikan pembenaran atas kegagalannya menelusuri jalan perjuangan melawan ego dirinya. Apabila imannya lemah, ia akan mendengar suara yang semakin memperlemahnya.
Orang-orang munafik menyangkal tanggung jawab terhadap pembelotan mereka dengan menyatakan bahwa mereka juga melihat orang-orang lain yang teriuka dan berlari kemudian kabur melarikan diri. Mereka juga menambahkan bahwa mereka tak bertanggung jawab atas kekalahan, dengan menyatakan bahwa semua ini terjadi karena Allah dan karena Allah tak menginginkan mereka menang. Tetapi Allah menyatakan dalam Alquran bahwa Dia tidak mengubah suatu kondisi masyarakat sehingga mereka sendiri yang mengubahnya. Manusia biasanya menyalahkan Allah atas apa yang menimpa mereka, karena dia tidak tahu watak Yang Mahawujud.
Perang Uhud memberikan kesempatan kepada kaum muslim untuk merenungkan niat dan amal mereka. Orang yang niatnya ditampakkan amatlah beruntung, karena ia bisa melihat akal bulus ego dirinya yang tersembunyi dan dengan demikian diberi kesempatan untuk berubah dan berkembang. Sebuah contoh, apabila kita sadar bahwa pengkhianatan adalah unsur utama dalam watak kita, kita akan memiliki kesadaran yang lebih terhadap kecenderungan ini dan akan lebih mudah lagi mengatasinya. Hal yang sama juga dapat terjadi pada tingkat fisik: apabila kita sadar bahwa tindakan kita itu aneh karena ketidakseimbangan tubuh, kita dapat membuat alat bantu. Dengan menyadari saat-saat lemah itu, kita dapat menetralkan akibat negatifnya.
"Katakanlah: 'Sekiranya kalian berada di rumah kalian,'" merupakan jawaban terhadap orang-orang Yahudi dan kaum lainnya di Madinah yang mengatakan kepada orang-orang beriman bahwa seandainya saja mereka tetap tinggal di dalam rumah, maka mereka tidak akan terbunuh. Peperangan hidup ada di hadapan kita "karena Allah akan menguji apa yang ada di dalam hati kalian." Kata ujian atau cobaan (bala) berarti juga "membuat letih." Watak cinta kasih Allah adalah menampakkan apa yang ada dalam hati kita dalam rangka melemahkan atau menyembuhkan penyakit yang berada di dalamnya. Dengan cara ini, hijab yang menghalangi kita dari merasakan tauhid yang ada dalam diri kita akan terbuka, dan kita dapat beramal sejalan dengan isi hati kita yang paling dalam. Allah "menyingkap" apa yang berada dalam dada sehingga hati itu berubah menjadi suci dan bebas. Selanjutnya, kita diizinkan untuk kembali kepada Sang Sumber yang berada dalam diri kita.
"Allah Maha Mengetahui isi bati." Pengetahuan diri berasal dari Allah; ia merupakan hubungan intim yang bersifat khusus. Kewajiban setiap kita adalah turut serta dalam perang Uhud, kalah tetapi menang, sebagaimana dilakukan kaum muslim pada masa Nabi. Pada waktu itu, menjadi jelaslah siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik.
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْاْ مِنكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُواْ وَلَقَدْ عَفَا اللّهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
155. Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanya karena mereka digelincirkan oleh setan, akibat sebagian kesalahan yang mereka perbuat. Tapi Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
Mereka yang imannya lemah, yaitu mayoritas kaum muslim, berlari ketika "dua pasukan bertemu." Sedikit pengetahuan material dan spiritual yang mereka peroleh tidaklah memadai. Pengetahuan yang sedikit berbahaya, karena orang yang bersangkutan akan mudah tergelincir dari kendali. Analogi dari proses kesadaran akan pengetahuan ini adalah seperti kemampuan anak kecil untuk berpikir: anak kecil tidak secara langsung mengerti seluruh situasi. Demikian pula, kebanyakan kaum muslim hanya menjalankan sebagian kecil ajaran agamanya, yaitu Islam, bagian yang paling mudah bagi mereka untuk melaksanakannya. Karena kita mencintai dunia, kita mendukung kecenderungan materialistik kita dengan menyitir hadis yang menyatakan bahwa Allah lebih mencintai orang muslim yang kuat dan kaya ketimbang orang muslim yang miskin. Secara keseluruhan, kita lupa mengingat bahwa Alquran selalu menekauKan infak dan sedekah, dan mencela ketamakan dan pengumpulan harta. Alquran mensinyalir bahwa Allah akan memberi kita rejeki (rizq) dari hal-hal yang tidak terduga.
"Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun." Pesan utama dari ayat ini adalah bahwa Allah akan mengampuni siapa saja yang tulus dalam permohonannya, dan Dia akan menjadikan mereka bersih dari segala dosa, seperti bayi yang baru dilahirkan, untuk kembali beramal dengan pengetahuan yang lebih luas.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ كَفَرُواْ وَقَالُواْلإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُواْ فِي الأَرْضِ أَوْ كَانُواْ غُزًّى لَّوْ كَانُواْ عِندَنَا مَا مَاتُواْ وَمَا قُتِلُواْ لِيَجْعَلَ اللّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللّه ُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
156. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian seperti orang-orang kafir yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka Bumi atau berperang: "Seandainya mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak akan mati dan tidak akan terbunuh." Allah akan menimbulkan rasa penyesalan di dalam hati mereka karena sikap yang demikian itu. Allah menghidupkan dan mematikan, dan Allah melihat apa yang kalian kerjakan.
Orang-orang beriman tidaklah sama dengan orang-orang kafir. Ayat ini meminta kaum mukmin agar tidak mengikuti kaum kafir dalam keingkaran, keraguan, dan kebimbangan mereka. Mereka yang ingin kuat imannya tidak boleh sampai terjebak dalam perangkap tersebut. Orang-orang beriman tidak boleh menyesali apa yang telah terjadi.
Ungkapan "mereka tidak akan mati dan tidak akan terbunuh" jelas menunjukkan penentangan. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan bahwa seandainya saja suatu kaum tidak pergi ke medan perang tentu mereka akan tetap hidup? Keadaan dapat saja berubah kapan saja. Maksudnya, manusia tak bisa sepenuhnya meramal apa yang akan terjadi berdasarkan perhitungan di atas kertas.
وَلَئِن قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
157. Jika kalian gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari pada harta rampasan yang mereka kumpulkan.
وَلَئِن مُّتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لإِلَى الله تُحْشَرُونَ
158. Dan sungguh jika kalian meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kalian dikumpulkan.
Pada ayat ke-157, terbunuh (qutila) disebutkan sebelum kata mati. Ini menunjukkan bahwa keinginan untuk mati syahid adalah lebih baik daripada menerima kematian secara pasrah. Apabila seseorang terbunuh di jalan Allah, maka menyerahkan seluruh jiwanya kepada Allah lebih baik daripada seluruh apa yang telah ia peroleh di muka Bumi ini. Baginya, mati syahid adalah lebih baik daripada kekayaan sebuah kerajaan, karena mati di jalan Allah adalah kunci menuju kebebasan abadi. Ia akan dihormati sebagai tamu raja di raja pada kerajaan yang tiada batas. Manusia yang mengejar kekayaan sebenarnya hanyalah mengumpulkan sedikit perhiasan kecil.
Dengan menyebutkan terbunuh sebelum mati, Allah membuat pernyataan mengenai pengorbanan manusia demi kebenaran. Dia berfirman bahwa siapa saja yang ingin menyerahkan miliknya yang paling berharga, yaitu hidupnya, sungguh ia bersama Allah.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
159. Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri darimu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
Kelemah-lembutan adalah sifat Allah yang sangat ingin kita tanamkan. la merupakan sifat Nabi, sang pemimpin sempurna, yang ingin kita teladani. Jika Nabi tidak memiliki sifat mulia ini, seandainya hatinya tidak lemah lembut, manusia tidak akan berbondong-bondong masuk Islam. Alquran mengisyaratkan bahwa keinginan memiliki sifat-sifat mulia mengakar kuat dalam setiap hati manusia. Ketika orang beriman melihat sifat-sifat ini termanifestasi secara jelas, maka ia akan mencarinya, sesuai dengan tingkat kekuatan atau kelemahan imannya.
Kemudian Allah mengamanatkan Nabinya dengan berfirman: "Maafkanlah mereka." Kita bisa memaafkan kesalahan seseorang terhadap diri kita, tetapi kita tidak bisa memaafkan kesalahan seseorang terhadap orang lain, dan kita tak bisa menebus perbuatan dosa orang lain yang berkaitan dengan hak Allah. Kita bisa saja memaafkan seseorang yang merusak hasil panen kita, tetapi kita tak bisa memaafkan kesalahan orang tersebut terhadap alam atas kerusakan lingkungan yang dilakukannya. Perbuatan seseorang pasti akan menimbulkan reaksi alam. Karena kemuliaan fitrahlah, kita bisa memaafkan orang lain sebagaimana Nabi melakukannya. "Dan mohonkanlah ampunan untuk mereka": Nabi diminta berdoa untuk mengakhiri kelemahan mereka, agar mereka dapat diampuni.
"Dan bermusyawarahlah dengan mereka." Inilah unsur mendasar dalam suatu masyarakat: saling berbagi pendapat dan bertukar pikiran. Seorang pemimpin hendaknya bermusyawarah dengan rakyatnya sebelum mengambil suatu tindakan, walaupun terkadang ia mendapatkan mereka lemah dan tidak mampu mengikutinya. Bermusyawarah dengan seseorang tidak berarti harus mengikuti sarannya, ia hanya mengisyaratkan interaksi, penyelidikan dan pilihan menuju yang terbaik. Kepemimpinan nabi bukanlah demokrasi dalam arti sempit, bukan pula demokrasi sekuler.
Alquran melanjutkan, "Apabila kamu telah membulatkan tekad," yaitu ketika seseorang telah mengumpulkan seluruh informasi melalui diskusi dan mendengar pendapat orang lain, barulah ia dapat mengambil keputusan secara baik. Allah mencintai orang-orang yang tegas dalam mengambil keputusan. Dia mencintai orang-orang yang menggunakan akalnya, yang menginginkan hal terbaik dan berusaha meraihnya tanpa rasa bimbang. "Allah mencintai orang-orang yang yakin." Ketika keputusan telah diambil, maka harus segera dilaksanakan.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji lagi?" (Q.S. 29:2) Kita akan diuji dengan kelemahan dan kebimbangan. Orang yang tabah dan sabar akan tetap bertahan seperti mercusuar di pantai, tidak ada yang dapat menggoyahkannya. Walaupun ombak menerpanya, ia tetap berdiri pada pondasinya. Ia yakin dan percaya, karena ia mengetahui bahwa pada akhirnya kemenangan akan datang dari Allah, dan bahwa apa yang ia perjuangkan akan menang walaupun tidak muncul secara langsung. Pembunuhan terhadap nabi tidak akan menghentikan risalah. Kita tidak akan menang dengan hanya mengalahkan seseorang yang menjadi lawan kita, khususnya bila orang tersebut mewakili kebenaran, karena kebenaran akan tetap muncul, boleh jadi pada generasi berikutnya. Kebenaran berarti bahwa manusia tidak akan pernah tenang kecuali setelah ia mengetahui tujuan dari penciptaannya, dan dia tidak akan tahu kecuali setelah ia merasa yakin dan aman dengan keimanan dan keislamannya. Manusia tak akan pernah puas dengan jumlah kekayaan sebanyak apa pun, kecuali setelah ia yakin dalam hatinya akan kekuasaan Allah atas seluruh makhluk, baik yang terlihat maupun yang gaib.
إِن يَنصُرْكُمُ اللّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِ وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكِّلِ الْمُؤْمِنُونَ
160. Jika Allah menolong kalian, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kalian, tetapi jika Allah membiarkan kalian, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian selain Allah? Karena itu, hendaknya kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.
Allah akan memberi seseorang kemenangan ketika ia telah mengikuti aturan yang berlaku, baik yang tampak maupun tersembunyi, baik dalam bentuk kekuatan maupun kelemahan. Ketika yang tampak dan tersembunyi itu menyatu, kita akan meraih kesuksesan dan melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan cahaya kebenaran. Kesuksesan adalah sesuatu yang mungkin dapat terjadi pada semua tingkatan. Apabila jalan yang kita ambil tertutup, kita harus yakin bahwa jalan lain yang lebih baik akan tampak di depan kita pada waktunya nanti. Kita percaya pada niat yang baik dan usaha yang benar, dan dalam berbuat hendaknya kita tidak terlalu terfokus pada hasil. Kecemasan yang berlebihan dan kekhawatiran tidak mencapai target akan membuang energi, dan justru memperburuk upaya pencapaian target.

Newer Post Older Post Home

0 komentar:

Post a Comment