Hi Guys Kali Ini Saya Akan Memposting Bagaimana Cara Agar Menegakkan Kebenaran
Langsung Kita Baca Aja Ya Guys
"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (Q.S Al Anfal :30)
Resiko bagi yang mencoba menegakkan kebenaran :
1. Dipenjara.
2. Dibunuh.
3. Diusir
JANGAN TAKUT MENEGAKKAN KEBENARAN
"Rasa takut (segan) terhadap manusia jangan sampai menghalangi kamu untuk menyatakan apa yang sebenarnya jika memang benar kamu melihatnya, menyaksikannya atau mendengarnya." (HR Ahmad)
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, "Janganlah takut berada di jalan Allah terhadap celaan orang yang suka mencela." Aku berkata, "Tambah lagi ya Rasulullah." Beliau melanjutkan pesannya, "Katakanlah apa yang hak meskipun akibatnya terasa pahit."
Rasulullah saw sendiri sudah mengisyaratkan, bahwa akibatnya akan pahit. Tetapi itu hanya sebatas di dunia. Sama dengan orang yang harus menelan obat, seberapapun pahitnya bila yakin bahwa itu akan menyembuhkan, seharusnya ditempuh juga.
Allah SWT memerintahkan manusia agar menegakkan kebenaran bersikap dan berprilaku jujur, berani mengatakan yang benar meskipun perkataan yang benar tersebut akan mengakibatkan dirinya dimusuhi, dikucilkan, dianiaya bahkan kehilangan nyawa.
Sebagaimana Firman Allah SWT yang artinya,
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan." (QS. An Nisaa": 135).
Ayat di atas memerintahkan hamba Allah SWT yang beriman benar-benar menegakkan kebenaran dan menghukum dengan seadil-adilnya meskipun yang bersalah, keluarga sendiri bahkan orangtua kandung sendiri. Jangan tebang pilih atau pandang bulu dan mengikuti kehendak hawa nafsu dalam memutuskan suatu perkara. Allah SWT memberikan mandat kepada manusia sebagai khalifah di bumi agar menjadi penegak kebenaran, tanpa ragu-ragu.
Dalam Sebuah hadits Qudsi dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Allah SWT berfirman : Hai hambaKu sesungguhnya Aku mengharamkan terhadap diriKu berbuat zalim dan yang demikian berlaku pula untuk kamu. Maka janganlah kamu berbuat kezaliman. Kehancuran umat terdahulu adalah karena mereka berbuat zalim dan sewenang-wenang." (HR. Muslim).
Sebagai seorang muslim haruslah menjadi suri teladan dan menjadi rahmat bagi semesta alam dan senantiasa berkata benar sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas"ud dari Rasulullah SAW beliau bersabda: "Sesungguhnya kebenaran itu membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke syurga. Dan sesungguhnya orang yang membiasakan dirinya benar dalam segala tingkah lakunya akan dicatat Allah sebagai orang yang selalu benar. Sedangkan kedustaan itu membawa kepada penyelewengan dan penyelewengan itu membawa ke neraka dan orang-orang yang membiasakan berdusta akan dicatat Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari).
Sudah saatnya bangsa ini menegakkan kebenaran di negerinya agar Allah SWT menurunkan karunia, nikmat dan rahmat dari langit dan bumi. Kehancuran suatu bangsa di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran bagi kita. Mereka itu mengingkari perintah Allah SWT berbuat zalim dan melampaui batas. Mereka yang menjadi ulil amri di negeri ini berkuasa atas kehendak Allah SWT dan mereka harus menjalankan kekuasaannya sesuai dengan kehendak si pemberi kuasa. Dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara harus menjalankan otoritas yang diberikan Allah berkata benar dan menegakkan keadilan.
Mereka harus mempergunakan mata dan telinganya untuk melihat dan mendengar realita di tengah-tengah masyarakat. Betapa saat ini masyarakat belum sepenuhnya merasakan kebenaran dan keadilan itu ditegakkan. Masyarakat lebih sering melihat tontonan kebohongan dari elit politik di negerinya yang terjerat kasus korupsi. Putusan-putusan hakim banyak yang justru mencederai rasa keadilan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: "Apakah engkau hendak meminta keistimewaan dari pelaksanaan hukum-hukum Allah? Sesungguhnya kehancuran umat-umat terdahulu karena bila yang mencuri rakyat jelata mereka hukum, tetapi kalau yang mencuri orang yang berpangkat mereka biarkan saja. Demi Allah yang memelihara jiwa saya kalau Fatimah binti Muhammad mencuri saya potong tangannya." (HR. Bukhari).
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Ma-idah [5] : 8)
Tak selamanya usaha menegakkan kebenaran berjalan mulus. Yang lebih sering terjadi justru menemukan jalan terjal dan berliku. Meski demikian, kebenaran tetaplah harus ditegakkan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat.
Penghalang ditegakkannya kebenaran
Penghalang ditegakkannya kebenaran ada yang bersifat internal ada juga eksternal.
Berikut penghalang-penghalang tersebut.
Kejahilan
Orang-orang yang jahil tidak mengetahui kebenaran, tidak dapat membedakannya dari yang salah, dan tidak punya keinginan untuk menerapkannya. Mereka hanya melakukan sesuatu yang dianggap benar oleh kebanyakan orang saja. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT):“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"” (Al-Baqarah [2]: 170)
Hawa Nafsu
Hawa nafsu mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Tidak peduli apakah hal itu baik atau buruk akibatnya, benar atau salah menurut aturan Allah SWT. Jika hawa nafsu telah menguasai seseorang dan mengalahkan imannya, maka yang akan mengemuka adalah sikap-sikap dan perilaku negatif serta destruktif.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda: “Perintahkanlah kepada manusia agar berbuat ma’ruf dan agar mereka mencegah yang mungkar, sehingga apabila kalian melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan dan rasa takjub orang yang berpendapat terhadap pendapatnya sendiri; maka hendaklah kalian menjaga diri-diri kalian, dan tinggalkan orang-orang itu.” (Riwayat Abu Daud dari Abu Umayyah As-Sya’bani)
Kesombongan
Banyak juga didapati orang-orang yang menolak kebenaran karena kesombongan dirinya. Mereka mengetahui kebenaran namun angkuh, sehingga menolak pendapat orang lain yang sesungguhnya lebih benar. Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW di dalam Hadits beliau:“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia,” (Riwayat Muslim)
Permusuhan Orang-orang Kafir
Orang-orang kafir yang mengingkari kebenaran Islam memerangi kaum Muslim secara fisik, seperti agresi militer dan penjajahan ekonomi, maupun secara pemikiran (ghazwul fikr). Mereka perdayakan umat Islam untuk menerima ideologi serta budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Mereka menyebarkan berbagai syubhat dan kebohongan agar umat Islam semakin jauh dari ajaran agamanya, dan masyarakat membenci Islam. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” (As-Shaf [8]:
Penyeru kepada Kesesatan
Di samping orang-orang yang jelas-jelas kafir, di tengah umat Islam sendiri juga terdapat orang-orang yang selalu menimbulkan kerusakan dan menyesatkan umat dari kemurnian ajaran Islam. Meraka berasal dari latar belakang keluarga Islam, hidup di tengah-tengah umat Islam, berbicara atas nama Islam dengan hujjah-hujah ajaran Islam. Tetapi pendapat-pendapat mereka jauh dari al-Qur`an, Sunnah serta ijma’ para ulama yang shalih.
Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW. Suatu hari, sahabat Hudzaifah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang keadaan yang akan dialami oleh kaum Muslimin sepeninggal beliau. Beliaupun menjelaskan kepada Hudzaifah tentang datangnya suatu masa di mana terdapat para penyeru yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam. Ciri-ciri mereka dijelaskan oleh Rasulullah dalam Hadits beliau:“… Mereka itu dari jenis kulit-kulit kita dan berbicara dengan lidah kita …”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Tips Sukses Menegakkan Kebenaran
1. Memahami kebenaran dari sumber yang benar
Kita tidak akan pernah dapat menegakkan kebenaran sampai sungguh-sungguh memahami kebenaran itu sendiri. Kebenaran itu berasal dari Allah SWT, Tuhan yang Maha Benar (al-Haqqu). Diturunkan melalui para Rasul, manusia pilihan yang selalu benar dalam ucapan dan tindakannya (as-Sidqu).Maka, manusia akan sampai kepada kebenaran tersebut jika mereka mengambilnya dari Allah SWT (al-Qur`an), dari Rasul-Nya (al-Hadits), dan dari para ahli ilmu yang shalih yang pendapat-pendapat mereka selalu berpegang kepada al-Qur`an dan As-Sunnah tersebut.
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Al-Baqarah [2]: 147)
2. Memohon kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang benar
Di samping usaha yang sungguh-sungguh itu, kita juga harus berusaha untuk meminta bimbingan dan petunjuk kepada Allah SWT, Dzat yang Maha Benar, agar kita diberi-Nya cahaya kebenaran dan hati kita terbuka untuk menerimanya. Seperti doa berikut: “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu nyata benarnya, dan berikanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang salah itu nyata salahnya, dan berilah kami kemampuan untuk meninggalkannya.”
3. Mendakwahkan kebenaran dengan hikmah
Menyampaikan kebenaran tidak boleh dilakukan dengan serampangan, tanpa tahapan serta adab sopan santun. Karena, diterimanya suatu kebenaran itu bukan saja karena materinya yang benar, tetapi caranya juga diperlukan dengan hikmah. Allah SWT memerintahkan kepada kita,“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl [16]: 125)
Suatu hari ada seorang Arab Badui yang kencing di Masjid di mana Rasul SAW dan para sahabat berada. Pada sahabat marah dan hendak memukul orang tersebut. Namun, Rasulullah SAW tidak ikut terpancing emosi. Ia justru memerintahkan para sahabat untuk membiarkan dulu orang itu menyelesaikan hajatnya, baru kemudian meminta mereka mengambil air dan menyiramkannya.
4. Mensikapi orang-orang yang tersesat dengan kasih sayang
Tumbuhkanlah rasa kasih sayang kepada orang-orang yang belum mengetahui, bahkan menyimpang, dari kebenaran, sebagaimana kita menyayangi orang-orang yang kita cintai, tersesat di hutan belantara. Bersikaplah empati terhadap kekeliruan mereka dan akibat yang akan mereka alami. Dengan begitu, kita akan bersungguh-sungguh mengingatkan mereka, meyakinkan mereka, dan mencegah mereka agar tidak mengambil tindakan yang salah. Seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW.“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah [9]: 128)
5. Menjadi teladan dalam menegakkan kebenaran
Kebenaran tidak cukup hanya dikatakan saja, tapi harus didemonstrasikan agar masyarakat mengetahui secara pasti perbedaan antara yang benar dan yang salah, dan manfaatnya bagi kehidupan mereka.Kebatilan itu seperti kegelapan, sedang kebenaran itu ibarat cahaya. Gelap tidak akan pernah berubah hanya dengan mengatakan: “Wahai terang datanglah dan wahai gelap pergilah”. Kegelapan hanya akan lenyap saat kita datang membawa cahaya. Allah SWT berfirman:“Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al-Isra’ [17]: 81)
6. Jangan lelah berdoa agar Allah memberi petunjuk
Sebelum Umar bin Khaththab menjadi Muslim, Rasulullah SAW selalu berdoa agar kekuatan Islam diperkokoh dengan masuknya salah satu dari dua Umar: “Ya Allah, Islamkan salah satu diantara dua ‘Umar”. Dua Umar tersebut yaitu Umar bin Khatthab dan Amru bin Hisyam (Abu Jahal) yang pada awal dakwah Islam merupakan tokoh paling keras permusuhannya terhadap Rasulullah SAW dan kaum Muslimin.
Demikian juga ketika Rasulullah SAW mendapatkan perlakukan yang tidak bersahabat dari penduduk Thaif, sebaliknya, beliau malah memohonkan ampunan dan mendoakan agar suatu saat ada di antara mereka yang mengikuti Islam.
Wallahu a’lam bish shawab.


0 komentar:
Post a Comment